Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

500 Pekerja Lokal Bekerja di PLTU Celukan Bawang, Tapi Gajinya

Muhammad Sadli, yang ditugaskan dalam merekrut tenaga kerja lokal, mengatakan, pada tahap kontruksi hanya sekitar 500 pekerja lokal yang dilibatkan.

Penulis: Lugas Wicaksono | Editor: Irma Yudistirani
Tribun Bali/ Lugas Wicaksono
Sejumlah pekerja asal Tiongkok hadiri peresmian PLTU Celukan Bawang, Buleleng, Bali, Selasa (11/8/2015). 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA — Warga lokal Bali yang bekerja di Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Celukan Bawang masih sangat minim.

Mereka semuanya pekerja kasar berpenghasilan rendah.

Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Desa Celukan Bawang, Muhammad Sadli, yang ditugaskan dalam merekrut tenaga kerja lokal, mengatakan, pada tahap kontruksi hanya sekitar 500 pekerja lokal yang dilibatkan.

(PLTU Celukan Bawang Meminta 500 KTP Warga Untuk Mengurus Izin Amdal?)

Para pekerja ini terdiri dari warga empat desa penyangga PLTU Celukan Bawang, yakni Desa Celukan Bawang, Desa Tinga-tinga, Desa Tukad Sumaga dan Desa Pengulon.

“Mereka kerja yang kasar-kasar saja tanpa mengenal tanggal merah. Upahnya juga sedikit, hanya Rp 1,1 juta per bulan. Buruh kasar harian upahnya hanya Rp 60 ribu per bulan. Ada yang dikontrak selama masa konstruksi, ada juga buruh harian. Kontraknya habis akhir bulan ini sesuai masa konstruksi, bulan depan sudah nggak kerja lagi,” ujar Sadli, Rabu (26/8/2015).

Pada tahap pengoperasian, kata Sadli, hanya 125 orang warga dari empat desa itu yang direkrut sebagai pekerja di PLTU.

Sama halnya dengan pekerja yang direkrut pada tahap konstruksi, mereka juga hanya sebagai pekerja kasar di lokasi pembuangan limbah.

37 di antaranya sebagai cleaning service di lokasi yang sama.


Petugas Imigrasi Kelas II Singaraja melakukan sidak ke PLTU Celukan Bawang, Bali, Senin (24/8/2015). Imigrasi mengecek dokumen keimigrasian tenaga kerja asal Tiongkok. (Tribun Bali/ Lugas Wicaksono)

Pekerja lokal ini hanya digaji Rp 1,8 juta per bulan dan telah bekerja selama empat bulan.

Mereka dikontrak setahun dengan memberlakukan penilaian kinerja.

Menurutnya, gaji yang diterima pekerja lokal tidak sebanding dengan risiko yang didapatkan.

Setiap hari mereka harus bergulat dengan polusi limbah dengan standar pengamanan yang rendah.

“Kalau pekerja lokal kita spesial yang kasar-kasar saja. Itu belum risiko yang mereka terima, polusi batubara. Kalau kerja hanya pakai masker  seharga tiga ribuan,” tutur Sadli.

Sedangkan warga yang bekerja sebagai petugas di PLTU hanya 17 orang.

Mereka bekerja di bawah naungan PT General Energy Bali (GEB).

Menurutnya, tidak satu pun pekerja lokal yang bekerja di dalam kantor.

Berulang kali warga mengikuti seleksi tapi selalu  gagal.

(Bau dan Berceceran, Limbah PLTU Celukan Bawang Bikin Warga Sesak Nafas)

Menurut Sadli, proses seleksi yang dilakukan sangat ketat.

Meliputi prestasi akademik, usia maksimal 25 tahun dan postur tubuh.

“Pekerja di bagian administrasi juga tidak dari warga kami. Nggak ada warga kami yang kerja di dalam kantor. Semua buruh kasar. Sudah sering ikut seleksi tapi nggak pernah lulus,” katanya.

Selain harus bersaing dengan Tenaga Kerja Asing (TKA) asal Tiongkok, pekerja lokal Bali harus bersaing dengan pekerja dari luar Bali.

Tidak sedikit pekerja lokal yang didatangkan dari Batam, Jawa Timur dan Jawa Barat.

Menurutnya, pekerja lokal yang menempati posisi di dalam kantor berasal dari Batam.

Di sisi lain, sebanyak 850 orang pelamar dari warga empat desa itu menunggu untuk dapat bekerja di PLTU.

(PLTU Celukan Bawang Bakal Penuhi 40 Persen Energi Listrik di Bali)

Sebagian besar dari mereka melamar sebagai tenaga administrasi dan pekerja teknis pengoperasian mesin.

Sadli merasa kurang nyaman jika warga setempat disebut belum layak bekerja di PLTU.

Menurutnya, warga yang melamar kerja telah berpendidikan tinggi dan memiliki pengalaman kerja di sejumlah PLTU.

“Kalau warga kami sebenarnya tidak juga kalau tidak layak kerja di dalam. Banyak yang lulusan elektro di ITS, ITB dan banyak pula yang sudah berpengalaman di PLTGU Pemaron dan PLTU Pesanggaran. Ini kan tergantung niat mereka, boleh tidak warga lokal kerja di dalam,” tuturnya.


Petugas Imigrasi Kelas II Singaraja melakukan sidak ke PLTU Celukan Bawang, Bali, Senin (24/8/2015). Imigrasi mengecek dokumen keimigrasian tenaga kerja asal Tiongkok. (Tribun Bali/ Lugas Wicaksono)

Perbekel Celukan Bawang, Muhammad Ashari, berjanji mengkomunikasikan dengan investor di PLTU Celukan Bawang untuk memrioritaskan pekerja lokal.

Namun, selama ini komunikasi yang berusaha dijalinnya tidak maksimal karena pihak PLTU sangat tertutup.

Dari pengamatannya persentase perbandingan pekerja, 70 persen TKA, 30 persen pekerja lokal.

“Saya sudah berulangkali minta data berapa rasio perbandingan asing dan lokal, tapi nggak pernah dikasih. Mereka itu tertutup sekali. Kami ingin putra Bali diprioritaskan. Kalau empat desa ini secara SDM (Sumber Daya Manusia) kan masih belum. Kami minta satu Kecamatan Gerokgak, kalau SDM masih belum, ambil dari Kecamatan Seririt atau cari seluruh Buleleng, masak satupun tidak ada,” kesalnya. (*)

Info ter-UPDATE tentang BALI, dapat Anda pantau melalui:

Like fanpage >>> https://www.facebook.com/tribunbali

Follow >>> https://twitter.com/Tribun_Bali

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved