‘Andi Noya, Sebuah Kisah’, Pergulatan Andy Noya Sebagai Jurnalis

"Seorang jurnalis itu harus bisa menjaga nilai-nilai. Menjaga indepensi meski pemilik perusahaan media tempat kita bekerja terjun di dunia politik"

‘Andi Noya, Sebuah Kisah’, Pergulatan Andy Noya Sebagai Jurnalis
Tribun Bali
Andy F Noya saat memberikan tanda tangan. 

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - "Seorang jurnalis itu harus bisa menjaga nilai-nilai. Menjaga indepensi meski pemilik perusahaan media tempat kita bekerja terjun di dunia politik".

Nukilan atau kutipan kalimat di atas dikatakan oleh presenter dan jurnalis senior, Andi F Noya (54) saat ditemui di sela-sela launching buku biografinya yang berjudul "Andi Noya, Sebuah Kisah" di Gramedia Mall Bali Galeria, Kuta, Badung, Sabtu (29/8/2015) malam.

Andi menuturkan, buku biografinya tersebut berisi tentang kisah pergulatan hidupnya dari seorang yang tidak mempunyai apa-apa hingga menjadi jurnalis senior yang dikenal banyak orang.

"Ya kebanyakan memang tentang perjalanan saya sebagai seorang jurnalis," katanya.

Bagi Andi menjadi jurnalis adalah sebuah pilihan. Sebagai pilihan tentu ada berbagai macam konsekuensi yang harus dihadapi termasuk konsekuensi lemah secara ekonomi.

"Ini adalah sebuah pilihan, jadi harus saya jalani," kata dia.

Ia juga menceritakan perjalanan paling berat selama dia berkecimpung dalam dunia jurnalistik.  Tantangan paling berat tersebut yakni ketika pemilik media tempatnya bekerja terjun ke politik praktis.

"Disitu sebenarnya loyalitas kepada profesi kita diuji. Bagaiamana kita menjaga agar nilai dan etik profesi kita tetap terjaga meski pimpinan kita berpolitik," jelas Andi.

Ia sempat geram dengan kondisi tersebut.  Bahkan, sempat terlintas dalam pikirannya untuk meninggalkan media tempatnya bekerja.

"Pak Jacob (Oetama) bilang, jangan keluar. Dia justru mendukung saya. Karena justru profesionalitas kita sebagai jurnalis diuji. Bagaimana tetap mempertahankan nilai dan etika untuk tetap netral," kata baoam tiga anak ini.

Terkait dengan buku yang ia luncurkan malam ini. Andi sengaja bekerjasama dengan seseorang untuk menuliskan buku biografinya tersebut. Menurutnya dengan biografi, orang akan menilainya secara fair.

"Kalau saya menulis autobiografi akan sangat subjektif.  Nah, dengan biografi ini orang akan menilai saya dengan fair," katanya.(*)

Penulis: Edi Suwiknyo
Editor: gunawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved