Liputan Khusus

Kalah Saing, Cangkang Titanium Produksi Tiongkok Hanya Rp 50 dan Variatif

Cangkang Tiongkok yang bikinan mesin itu dipercantik dengan hiasan-hiasan yang bahannya menyerupai emas atau berlian. Perajin lokal tidak punya mesin

Kalah Saing, Cangkang Titanium Produksi Tiongkok Hanya Rp 50 dan Variatif
Tribun Bali/Rizal Fanany
Seorang perajin cangkang akik di Celuk, Gianyar, sedang menunjukkan hasil karyanya. Membanjirnya cangkang akik produksi Tiongkok menggerus pasar cangkang akik lokal. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Bisnis kerajinan cangkang akik di Celuk saat ini merosot.

Untuk menunjukkan betapa merosotnya bisnis kerajinan cangkang di Celuk, Gianyar, Bali saat ini, perajin perak art shop Koming Ayu di Celuk, Nyoman Rupadana, mengungkapkan jumlah orang yang dipekerjakannya sebagai indikator.

Di awal tahun 2015 hingga berjalan sekitar lima bulan kemudian, ia bisa mempekerjakan sekitar 30 orang.

(Berita Terkait: Cangkang Akik Tiongkok Kuasai Bali, Perajin Lokal di Celuk Kelimpungan)

Para pekerja itu mampu memproduksi sekitar 2.500 buah cangkang dengan menghabiskan bahan baku sedikitnya 15 kilogram kuningan.

Sewaktu sedang laris-larisnya, jelas Rupadana, art shop Koming Ayu jarang sekali melayani pembelian dalam satuan (bijian) kendati tidak sedikit orang yang ingin membeli satuan.

Bulan-bulan yang laris itu pun menjadi hoki bagi para perajin.

Sebab, dalam sehari setiap perajin mampu membawa pulang duit setidaknya Rp 80 ribu dari hasil kerjanya.

Bahkan, jika ada lembur yang dihitung per jam, penghasilan bertambah lebih besar.

Akan tetapi, membanjirnya cangkang dari Tiongkok membuat keadaan berubah nyaris 180 derajat.

Setelah bulan Mei lewat, kata Rupadana, jumlah pekerja yang dilibatkannya terus berkurang dan tinggal lima orang saat ini.

Koming Ayu menjual cangkang buatannya dengan hitungan gram.

Per gram cangkok bungkung kuningan atau alpaka dijualnya dengan harga relatif sama, yakni sekitar Rp 550.

Pembelian dalam jumlah besar atau karungan biasanya sebanyak 15 kilogram atau seharga sekitar Rp 5 juta.

Itu adalah harga pembelian langsung di produsen.

Di tingkat eceran di pasar, harga cangkang titanium Celuk bisa mencapai Rp 125 ribu per biji.


Seorang perajin cangkang akik di Celuk, Gianyar, sedang membuat cangkang akik. (Tribun Bali/Rizal Fanany)

Bandingkan saja dengan cangkang titanium produksi Tiongkok yang bisa didapat seharga Rp 50 ribu per biji.

“Tidak cuma lebih murah, cangkang produksi Tiongkok juga lebih variatif desainnya. Cangkang Tiongkok yang bikinan mesin itu dipercantik dengan hiasan-hiasan yang bahannya menyerupai emas atau berlian,” kata seorang pedagang cangkang Tiongkok di Pasar Satria, Denpasar, Bali.

Oleh karena itu, cangkang buatan Tiongkok menyediakan lebih banyak pilihan bagi konsumen kendati berupa cangkang casting atau cetakan.

(BPS: Tiongkok Peringkat Nomor 1 Penjualan Barang ke Bali)

Malangnya, kendati cangkang buatan Bali juga ada yang diproduksi secara casting, mesin-mesin pembuat cangkang di Bali (bahkan di Indonesia) belum berteknologi tinggi seperti mesin casting yang dimiliki Tiongkok.

“Hampir mustahil memproduksi cangkang yang sama seperti bikinan Tiongkok itu. Kami tidak punya mesinnya. Sepertinya mesin itu hanya ada di Tiongkok,” kata Rupadana. (*)

Info ter-UPDATE tentang BALI, dapat Anda pantau melalui:

Like fanpage >>> https://www.facebook.com/tribunbali

Follow >>> https://twitter.com/Tribun_Bali

Penulis: I Made Ardhiangga Ismayana
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved