Breaking News:

Pelinggih Mobil di Pura Paluang

Melihat Lebih Dekat ‘Pura Mobil’ di Nusa Penida, Ini Kekuatan Gaibnya

Ia juga menjelaskan pada malam-malam tertentu di area pura sering mendengar suara kendaraan menderu dan bunyi klakson mobil.

Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Tribun Bali/AA Putu Santiasa Putra
Pelinggih mobil di Pura Paluang, Nusa Penida saat pujawali, Sabtu (29/8/2015) 

Wayan Partai, Bendesa Adat setempat menjelaskan, plat mobil VW KD 013 berarti Karang Dawa dan tahun pembugaran pelinggih tersebut pada tanggal 01-01-2013.

Sementara plat mobil Jimmy DK 28703 GL.

DK merupakan plat nomor kendaraan untuk Provinsi Bali, 28-7-2003 merupakan tanggal pembugaran dan GL berarti Gunung dan Lebah (jurang).

Sebab, Pura Paluang (Pura Mobil) ini berada di atas bukit dan dekat dengan jurang.

“Mobil yang besar belum kita lakukan pemugaran kembali, seperti mobil VW yang telah memiliki panggung yang agak tinggi, kalau dulu mobilnya di bawah. Dulu, kata tetua di sini, mobil besar memiliki tulisan “Mobil Bemo” pada bagian depannya, tapi sekarang sudah dihilangkan,” jelas Wayan kepada Tribun Bali.

 Lebih jauh ia menjelaskan, warga Dusun/Banjar Karang Dawa atau sekitarnya memiliki kepercayaan yang tinggi terhadap kekuatan dan anugerah yang diberikan dari ida yang melinggih di pura tersebut.

Terbukti apapun kegiatannya seluruh warga pengamong pasti akan turun.

Bahkan warga yang merantau banyak yang pulang ke Nusa Penida untuk ikut berpartisipasi dalam kegiatan di Pura Paluang.

“Tentu keyakinan ini disertai kejadian-kejadian skala dan niskala yang dapat dipercaya ataupun tidak. Saya pernah melihat mobil pada suatu malam dari kejauhan di sekitar area pura ini. Saat saya dekati, mobil tersebut hilang. Saya percaya yang saya lihat itu adalah mobil di pura ini, karena warga percaya pada malam tertentu beliau mengendarai mobil tersebut untuk berkeliling,” jelasnya saat ditanya kejadian yang pernah ia alami terkait Pura Mobil.

Jero Mangku I Wayan Suar menjelaskan sejarah keberadaan Pura Paluang.

Dahulu seorang warga Karang Dawa ingin membuka lahan perkebunan di tempat tersebut.

Dalam proses pengerjaannya terdapat sebongkah batu karang yang besar sehingga warga harus memindahkannya ke lain tempat.

Setelah dipindahkan, keesokan harinya batu tersebut kembali ke tempat semula.

Hal ini berulang kali terjadi, kemudian ada suatu petunjuk niskala untuk mendirikan sebuah pelinggih di sana, yakni yang berada di atas bukit karang dan bertetangga dengan jurang yang  sangat curam. Yakni Pura Paluang.

Seiring berjalannya waktu, ada pawisik Ida yang melinggih di pura tersebut yakni Ratu Gede Sakti Hyang Mami meminta agar krama membuatkan pelinggih mobil, karena beliau di alam niskala memiliki kendaraan berupa mobil.

Mobil jimmy lah yang merupakan pelinggih dari Ratu Gede Sakti Hyang Mami.

Sementara mobil VW merupakan mobil dari pengikut atau anak-anak beliau.

“Ini sudah cerita turun temurun, kita tidak tahu tahun berapa kejadiannya, Zaman kakek saya sudah ada pelinggih mobil tersebut. Jadi, yang bilang tahun 1300 itu mungkin ingin buat sensasi saja kayaknya, nggak ada itu ” ujarnya saat di konfirmasi tahun pembuatan pelinggih mobil VW tersebut.

Sebab, tidak ada catatan yang menjelaskan tentang keberadaan Pura Paluang ini, hanya melalui kisah turun-temurun yang diwariskan.

Serta cerita-cerita skala niskala yang dialami sejumlah warga menjadikan motivasi warga pengamong untuk  menjaga eksistensi Pura Paluang hingga ke generasi mendatang.

Ia menceritakan lebih jauh ada dua orang warga yang diyakini menjadi pengiring Ratu Gede Sakti Hyang Mami dalam melakukan perjalanannya mengendarai mobil.

Kedua orang tersebut bernama Pak Serman dan Pak Latran. Sayangnya kedua orang ini tidak dapat ditemui Tribun Bali saat itu.

Pak Serman dan Pak Latran ini adalah dua orang desa yang polos, dan susah untuk diajak berkomunikasi dalam kesehariannya karena telah lanjut usia.

Mangku Suar menceritakan, salah seorang warga pernah melihat Pak Serman di daerah Sanur, Kota Denpasar, padahal Pak Serman ini tidak tahu apa-apa, bahkan mata uang pun ia tidak tahu.

“Pak Serman nike diajak ngomong aja susah, mata uang saja tidak tahu, kok bisa ada di Sanur. Salah seorang warga ngomong ke saya, kita percaya dia ke sana dengan mobil niskala untuk mengiringi beliau ke sana, tidak hanya sekali kejadiannya, bahkan berkali-kali, neh bulun tiang mejujuk (ini bulu kuduk saya jadi berdiri),” urainya sembari menunjukkan bulu kuduknya yang berdiri.

 Ia juga menjelaskan pada malam-malam tertentu di area pura sering mendengar suara kendaraan menderu dan bunyi klakson mobil.

Ia sendiri pun mengalaminya saat sedang mekemit di Pura Paluang.

Malam hari sekitar pukul 02.00 wita, ia mendengar suara mesin kendaraan menuju ke arah pura.

Dirinya mengira ada pemedek yang tangkil untuk menghaturkan sembah bakti.

Namun ketika disambut ke depan, tidak ada satu pun mobil yang parkir jaba sisi pura.

Mangku Suar juga menceritakan ayahnya pernah dirampok pada suatu malam.

Perampok dua orang, memiliki senjata berupa golok.

Ayahnya sungguh tak berdaya, bahkan mengira akan mati saat itu.

Saat itu pula ia langsung mengingat Pura Mobil, dan berdoa memohon keselamatan.

“Ketika parangnya mengenai leher ayah saya, tiba-tiba ayah saya jadi kebal, malah kedua rampok tersebut berhasil dikalahkan oleh ayah saya. Saya saat itu masih kecil, itulah salah satu kuasa dari beliau,” ungkapnya.

Selain di Desa Karang Dawa, Pura Mobil ini juga dibangun di daerah Palembang sebagai bentuk penyawangan persembahyangan dari sana.

Pura tersebut dibangun oleh warga asli Karang Dawa sebagai bentuk bhaktinya kepada beliau.

Sementara Jero Mangku Made Prigi menceritakan beberapa waktu lalu datang sejumlah pemedek dari Bali untuk menghaturkan sembah bhakti yang sebelumnya memperoleh pawisik dari Ida Ratu Gede Mas Mecaling sesuwunan di tempat tinggalnya.

Dari kunjungan tersebut, Jero Mangku Prigi mengetahui beliau yang melinggih di Pura Paluang memiliki hubungan saudara dengan beliau yang melinggih di Pura Penataran Ped.

Ia menjelaskan, di Pura Paluang sebagian besar yang memperoleh paica atau anugrah adalah orang luar, bukan dari Dusun Karang Dawa.

Termasuk juga mereka yang menghaturkan kaul kehadapan beliau, sementara warga Karang Dawa hanya sebagian kecil saja. Mungkin dikarenakan beliau ingin mencari pemedek dari luar Nusa Penida sehingga banyak yang datang ke Pura Paluang dan mampu mengangkat kesejahteraan warga sekitar pura.

Di Pura Paluang tidak diperkenankan untuk bertingkah laku senonoh, seperti berkata yang tidak baik, kencing sembarangan.

Ada kejadian seorang pemenang tabuh rah, tangannya terkena taji setelah berkata kotor di area pura saat permainan berlangsung.

Ada pula seorang tukang bangunan saat pembangunan Pura Paluang, tukang itu  suka kencing sembarangan, akhirnya pada suatu ketika ia terjatuh dari ketinggian, dan diselamatkan oleh seutas tali yang terikat di kakinya.

Mulai saat itu ia berlaku lebih hati-hati.

“Bahkan ada seorang polisi yang menangkap sejumlah warga saat melaksanakan tabuh rah  di area pura, pulang dari penangkapan tersebut ia terjatuh dari motornya dan langsung meninggal dunia. Di area pura ini tidak boleh berlaku aneh-aneh pokoknya,” jelasnya dalam bahasa Bali.

Putu Gita, seorang warga Dusun Banjar Karang Dawa, yang saat ini tinggal di Denpasar, menceritakan pernah ada seorang warga desa lain meminta pertolongaan beliau saat terjebak di tengah goa karang.

Ketika hendak mengambil sarang burung walet, air di dalam goa meninggi sehingga dia terjebak.

Salah seorang temannya sedang dalam keadaan cyuntaka.

Saat itu, ia ingat kepada Ida yang melinggih di Pura Mobil.

Tiba-tiba datanglah mobil dan menjatuhkan batu dalam air tersebut sehingga air keluar goa dan goa pun langsung tertutup.

Akhirnya dia selamat dan langsung membayar kaulnya.

Ada pula seorang warga yang jatuh ke samudera ketika memancing di malam hari, perahunya terhantam ombak.

Saat tenggelam, ia memohon pertolongan dari beliau.

Singkat cerita ia menemukan tebing dan mencoba memanjat tebing tersebut.

Ternyata pijakan tempat ia memanjat adalah barisan kepiting besar yang dipanjatnya hingga mencapai daratan.

“Begitulah contoh  kuasa Ida. Jadi, saya tidak berani kalau tidak hadir saat piodalan, saya sangat yakin hal tersebut,” pungkas Putu Gita.(*)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved