Bule Belanda Ini Ketagihan Mepeed Diantara Para Gadis Cantik Gianyar
"Ya saya ingin mengetahui orang Bali yang merayakan hari raya umat Hindu," ungkapnya. Lihat foto-fotonya di sini..
TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Lisa, gadis asal Negeri Belanda turut berderet di antara para gadis di Jaba Pura Dalem Gede Sukawati, Gianyar, Bali, Selasa (8/9/2015).
Perempuan bertubuh jangkung ini mepayas lelengisan.
Ia berada di Bali bersama temannya yang tinggal di Candidasa, Karangasem.
"Ya saya ingin mengetahui orang Bali yang merayakan hari raya umat Hindu," ungkapnya.

Lisa (TRIBUN BALI/I NYOMAN MAHAYASA)
Lisa ingin bergabung dan tertarik mepeed (rangkaian upacara, ibu-ibu maupun remaja menggunakan pakaian adat Bali berjalan berbaris, mengusung sesajen) atas ajakan temannya yang dari Sukawati.
Ternyata, Lisa sudah empat kali mepeed.
"Ya sudah empat kali dan ketagihan," tutur Lisa.
Peserta mepeed mulai dari anak kecil, remaja, ibu-ibu hingga orangtua.
Dari depan ada umbul-umbul, tedung dan deretan mulai dari uang kepeng, kasur, toples diiringi dengan sekaa gong.
Tabuhnya menggema hingga lima puluh meter.

Para remaja ikut mapeed di Sukawati, Gianyar (TRIBUN BALI/I NYOMAN MAHAYASA)
Ini sudah merupakan tradisi di setiap piodalan nadi di Pura Dalem Gede Sukawati yang jatuh pada Anggara Kasih wuku Tambir.
Nyoman Pudja Antara, Bendesa Adat Desa Pekraman Sukawati mengatakan, kehadiran mepeed di Desa Sukawati hanya dianalisa secara temporer, tak ada bukti tertulis.
Mepeed berasal dari tradisi zaman kerajaan yang erat kaitannya dengan permandian raja.
Ketika di Bali ada hari raya, raja punya tempat permandian di beji.
Raja dahulu mempunyai kepentingan mengumpulkan gadis-gadis cantik.
Sukawati merupakan kerajaan besar di Bali Barat abad ke-18, sekitar tahun 1711, yang dipimpin oleh Raja Anom Sirikan.

Anak-anak perempuan mepayas ikut mepeed di Sukawati, Gianyar (TRIBUN BALI/I NYOMAN MAHAYASA)
Konon Sukawati membentang dari Pantai Selatan hingga Pegunungan Batur.
"Kalau kaitannya mepeed dengan pura, pura punya beji di Sungai Petanu, namun jalan ke sana sudah rusak. Maka itu nunas toya ning-nya ke Pura Beji Cengcengan," terang Pudja Antara.
Ia menjelaskan, anak muda dan gadis cantik ikut serta pada piodalan ini untuk nunas toya ning.
Menurutnya, mepeed ini bukanlah festival.
Mepeed ini memiliki nilai sakral yang merupakan prosesi nunas toya ning ke beji lalu digabung di pura.
Setelah itu diberi doa oleh pemangku, untuk memercikan tirta ke para bakta.

Ibu-ibu mepeed di Sukawati, Gianyar (TRIBUN BALI/I NYOMAN MAHAYASA)
Mepeed yang berjalan hingga kini merupakan budaya yang menjadi purna dresta.
"Sehingga mepeed menjadi budaya yang masih dikagumi," ujar pria paruh baya ini.
Menurut Pudja Antara, mepeed ini bebas untuk siapa saja, asalkan masih mampu dan mau ngayah.
Orang ngayah para bakta ngaturang bakti, tidak pamrih.
"Kalau sudah dapat mepeed lain rasanya, auranya terlihat. Ini tujuannya bukan pamer tapi ngayah bentuk sujud bakti pada Hyang Widhi," ungkap Pudja Antara. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/bule-belanda-lisa_20150909_113525.jpg)