Melarat di Pulau Surga

Dayu Habiskan Waktu di Atas Kasur Kumal di Dalam Rumah yang Mirip Gudang

Kondisi ruang Dayu Nadi mirip gudang sangat mengenaskan. Ia sehari-hari hanya bergerak di atas kasur kumal dipenuhi baju kotor.

Dayu Habiskan Waktu di Atas Kasur Kumal di Dalam Rumah yang Mirip Gudang
Tribun Bali
Dayu Ketut Nadi saat berada di ruang pengap miliknya di Banjar Abiantuwung Kelod, Desa Abiantuwung, Kediri, Tabanan, Kamis (25/9/2015). 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN - Dayu Ketut Nadi (70) tinggal di ruangan berukuran 3x4 meter di Banjar Abiantuwung Kelod, Desa Abiantuwung, Kediri, Tabanan. Dayu sejak usia 15 tahun sudah mengalami kelumpuhan. Ia sehari-hari hanya bergerak di atas kasur kumal dipenuhi baju kotor yang sudah lama tak dipakai.

Kondisi ruang Dayu Nadi mirip gudang sangat mengenaskan. Selain pengap banyak nyamuk dan bau menyengat.

Saat ditemui Tribun Bali, Jumat (25/9/2015), perempuan renta sedang mengurut kakinya dengan minyak. Dayu mengeluhkan sakit pada kedua kakinya.

"Aduh, aduh batis tiange sakit care gugut meong, icen tiang tamba apang seger (Aduh, aduh, kaki saya sakit seperti digigit kucing, tolong beri saya obat)," keluhnya sambil menangis.

Dayu Nadi menceritakan dirinya sangat menderita dengan apa yang dialaminya. Ia menuturkan dirinya tak pernah berobat ke dokter. Hanya minum obat asam urat warung. Dikatakan, ia juga tak pernah dapat obat rutin dari puskesmas. Kecuali jika ia sakit demam petugas puskesmas datang memeriksa.

Perempuan renta itu hanya bisa tidur, jika ia lelah. Ia hanya bisa bangun duduk saja. Tak ada aktivitas yang bisa ia lakukan. Untuk sekadar hiburan ia hanya ditemani radio kecil lama. Ia mengaku, tidak pernah ada bantuan pemerintah kepada dirinya selain beras miskin (raskin). Ia mengaku ada kelompok orang yang pernah memberikan bantuan sembako. Namun ia mengaku, tak terlalu membutuhkan sembako itu karena baginya pengobatan yang paling penting.

"Ampun mekelo tiang sakit kene, tiang dot icene tambe, apang enggal seger ngidaang mejalan (sudah lama saya sakit seperti ini. Saya hanya ingin diberikan obat supaya cepat sembuh dan bisa berjalan)," katanya.

Ia menuturkan sempat ada yang menawarkan dirinya di panti jompo. Ia dengan senang hati dan berharap ada yang mengurus di sana. Namun setelah ia berpikir malu karena dirinya lumpuh tak bisa berbuat apa-apa. Ia malu harus merepotkan orang lain.

Adik Dayu Ketut Nadi, Ida Bagus Rai Adi (67) menjelaskan, kakak nomor empatnya dari enam bersaudara itu memang sejak lama telah mengalami kelumpuhan. Dia mengatakan, wanita yang tidak pernah menikah itu tidak pernah mendapatkan pengobatan secara medis hanya pengobatan alternatif.

“Saat masih kecil saya ingat ketika orangtua menggendong kakak untuk berobat ke balian (dukun). Belum pernah mendapatkan perawatan medis karena keterbatasan biaya,” jelasnya.

Halaman
123
Penulis: I Made Argawa
Editor: gunawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved