BMPD Bali Serahkan Bantuan ke Subak Pulagan

Acara Panen Raya Padi di Subak Pulagan ini merupakan kelanjutan penanaman padi dengan demplot seluas 10 Ha yang dilaksanakan 7 Juli 2015.

BMPD Bali Serahkan Bantuan ke Subak Pulagan
istimewa
BPMD Bali Beri Bantuan ke Subak Pulagan, Tampaksiring, Gianyar, Bali, Selasa (27/10/2015). 

TRIBUN-BALI.com, GIANYAR - Sebagai bentuk dukungan terhadap program ketahanan pangan yang dicanangkan oleh pemerintah, dan upaya KPw Bank Indonesia Provinsi Bali dalam pengendalian inflasi dan pengembangan ekonomi daerah Provinsi Bali, Badan Musyawarah Perbankan Daerah (BMPD) Bali turut berpartisipasi dalam acara Panen Raya Padi di Subak Pulagan, Desa Tampaksiring, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, Bali, Selasa (27/10/2015).

Acara Panen Raya Padi di Subak Pulagan ini merupakan kelanjutan dari penanaman padi serentak dengan demplot seluas 10 Ha yang telah dilaksanakan pada 7 Juli 2015, kerjasama antara Kpw Bank Indonesia Provinsi Bali dengan Pemerintah Kabupaten Gianyar dan Kodim 1616 Gianyar.

Kepala KPw Bank Indonesia Provinsi Bali sekaligus Ketua Umum BMPD Provinsi Bali Dewi Setyowati mengatakan, Pemilihan Subak Pulagan sebagai demplot peningkatan produktivitas padi yang merupakan Warisan Budaya Dunia UNESCO, didasari oleh beberapa pertimbangan.

Selama ini, petani Subak Pulagan telah menggunakan bahan kimia secara luas dalam budi daya pertanian padinya baik pupuk maupun pembasmi hama.

Hal tersebut menyebabkan produktivitas tidak lagi sebaik bebarapa tahun yang lalu, dan hilangnya beberapa ciri khas dan kebiasaan tradisional alami juga dikhawatirkan dapat mengancam status Warisan Budaya Dunia.

Ditambahkannya, satu diantara metode untuk dapat mengembalikan unsur alami dan produktivitas adalah budi daya pertanian secara organik.

Untuk itulah diperkenalkan metode SRI (system of rice intensification) berbasis pupuk organik Microbacter Alfafa (MA 11) hasil penemuan Dr Nugroho W, dan tanam Jajar Legowo yang telah memberikan hasil memuaskan di beberapa daerah di Indonesia.

Adapun SRI adalah metode dengan keunggulan utama pada hematnya penggunaan bibit dan air.

Metode SRI dapat menghemat air sampai dengan 20-30 persen.

Benih yang dibutuhkan pun hanya 5-7 kg/Ha yang jauh lebih hemat dari metode konvensional (50 kg/ha).

Metode SRI hanya memerlukan 1 batang benih per lubang.

Sementara metode konvensional paling sedikit 10 batang per lubang tanam.

Melalui program ini, Bank Indonesia menginisiasi penggunaan kembali pupuk organik dan secara berangsur mengurangi penggunaan pupuk kimia karena penggunaan pupuk kimia secara terus menerus dapat menurunkan kualitas tanah yang berakibat pada menurunnya produktivitas.

Pada kesempatan panen raya padi tersebut, BMPD Provinsi Bali menyerahkan bantuan 5 (lima) ekor sapi dan kandang kepada kelompok Tani, Ternak dan Ikan Pulagan, sebagai wujud dukungan terhadap program ketahanan pangan komoditas padi yang merupakan bagian dari program Nawacita yang dicanangkan Presiden, dan sebagai bentuk upaya pengendalian inflasi dan peningkatan kesejahteraan petani. (*)

Editor: Kander Turnip
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved