Warga Sebut Abrasi karena Gencarnya Pembangunan Hotel, Perbekel Membantah

Deretan beton deker terpasang di depan rumah Ketut Sukrasena (33) pinggir Pantai Tukadmungga, Buleleng, Selasa (3/11/2015).

Warga Sebut Abrasi karena Gencarnya Pembangunan Hotel, Perbekel Membantah
Tribun Bali
Ketut Sukrasena berdiri di depan rumahnya yang hancur akibat terkena abrasi di Pantai Tukadmungga, Buleleng, Selasa (3/11/2015) 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Deretan beton deker terpasang di depan rumah Ketut Sukrasena (33) pinggir Pantai Tukadmungga, Buleleng, Selasa (3/11/2015).

Baru tiga hari lalu deker-deker beton itu terpasang.

Istri Sukrasena, Kadek Tyas Herawati mengatakan, pemasangan deker beton itu untuk melindungi rumahnya dari abrasi.

Mengingat bulan depan sudah mulai memasuki musim penghujan, ombak pantai pun semakin besar.

Setiap kali musim penghujan selama lima tahun terakhir ini, pantai di depan rumahnya selalu mengalami abrasi.

Bahkan sekitar dua tahun lalu rumahnya sudah mulai tergerus abrasi.

Tembok pembatas halaman depan rumahnya sudah banyak yang rusak karena terjangan ombak.

“Dulu ini tembok halaman depan, sudah mulai kena abrasi sejak dua tahun lalu. Setiap musim hujan, Desember ini dah mulai keras ombaknya. Ini kita pasang deker untuk persiapan musim hujan, habisnya Rp 25 juta. Kalau enggak gitu ntar bisa habis rumah saya,” katanya.

Tetangga Sukrasena menambahkan, kini sekitar 10 meter daratan pantai sudah berubah menjadi perairan karena terus diterjang abrasi.

Dikatakan, abrasi ini mulai terjadi setelah gencarnya pembangunan akomodasi pariwisata berupa hotel, resor dan vila di sempadan pantai sejak lima tahun terakhir.

Pembangunan akomodasi pariwisata ini diiringi pembuatan beton yang menjorok ke lautan sepanjang 10-15 meter yang berfungsi sebagi pemecah ombak.

“Di sekitar sini hotel-hotel pada pasang beton ke laut biar enggak abrasi kena ombak, tapi dengan begitu ombaknya berbalik keras ke pantai yang enggak ada betonnya, seperti di sini tambah keras sekali ombaknya. Dulu enggak pernah ada abrasi di sini sebelum ada hotel, saya sudah dari kecil tinggal di sini jadi tahu,” ujarnya.

Sementara Perbekel Tukadmungga, Kadek Arka berkeberatan jika abrasi di sekitar pemukiman warga diakibatkan pembangunan pemecah ombak oleh pemilik bangunan akomodasi pariwisata.

“Sebetulnya kalau dibilang itu abrasi karena dipasang tanggul sepenuhnya tidak benar adanya. Karena itu kan upaya dari pengembang untuk mencegah abrasi. Dan ini sudah dalam proses penangan. Kita sudah upayakan untuk membangun beton pemecah ombak model itu di sekitar rumah warga.  Saya sudah usulkan untuk dibangun ke pemerintah sejak 2012 lalu, dan sudah disurvei dari Jepang, 2016 perencanaan dan kemungkinan realisasi pengerjaannya 2017, pendanaan dari pusat, Balai Wilayah Sungai,” ujar Arka. (*)

Penulis: Lugas Wicaksono
Editor: gunawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved