Lontar, Warisan Budaya Bali yang Tak Mendunia, Perlu Proses Supaya Diakui

Lontar bukan hanya sebagai tradisi. Namun juga sebagai penopang historik peradaban Bali di tengah intelektualitas peradaban dunia. Namun...

Tribun Bali/Lugas Wicaksono
Seorang petugas menunjukkan koleksi lontar yang tersimpan di Gedong Kirtya, Jumat (13/11/2015). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Bagi masyarakat Bali, lontar bukan hanya sebagai tradisi.

Namun juga sebagai penopang historik peradaban Bali di tengah intelektualitas peradaban dunia.

Karena itulah lontar penting, supaya terus dilestarikan, khususnya oleh generasi muda.

Namun, terkait Lontar Bali yang jadi bagian dari warisan budaya dunia ini, hingga sekarang statusnya masih dalam tahap wacana.

Hal ini disampaikan oleh Ida Bagus Rai Putra, dosen Program Studi Sastra Bali, Fakultas Sastra dan Budaya Universitas Udayana.

"Wacana sudah lama diungkapkan. Tapi dari Pemerintah, regulasi terkait lontar menjadi warisan budaya masih belum juga dilaksanakan," ujar Ida Bagus Rai Putra, Senin (30/11/2015).

Menurutnya, diperkirakan lebih dari 55 ribu cakep lontar yang ada di masyarakat.

Jumlah ini belum termasuk yang tersimpan di perpustakaan lontar resmi.

Seperti di Gedong Kirtya terdapat 2414 cakep; Perpustakaan Lontar Fakultas Sastra Unud menyimpan 927 cakep; Perpustakaan Balai Badan Denpasar menyimpan 90 cakep; 151 cakep yang tersimpan di perpustakaan Universitas Hindu Indonesia; 50 cakep tersimpan di Perpustakaan Lontar Universitas Dwijendra; 60 cakep di Perpustakaan Museum Bali, dan 2274 di Perpustakaan Lontar Dokumentasi Budaya Bali, Kantor Dinas Kebudayaan Provinsi Bali.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved