Dharma Wacana
Menikah Beda Soroh, Suami Tidak Boleh Sembahyang di Rumah Bajang Istri?
dari awal kami menikah sewaktu saya hamil saya dilarang meminta makanan atau surudan apapun dari rumah bajang saya, dan anak saya juga tidak boleh
Penulis: I Putu Darmendra | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Tanya: Slamat pagi ida mpu pandita jaya acharya nanda..saya seorang istri yang perlu pencerahan.
Nama saya putu asal tabanan dan menikah ke ubud..
Saya membaca artikel tangal 16-11-15 yang berjudul “ fanatisme terhadap soroh”.
Saya ingin bertanya,,saya lahir dari keluarga dengan soroh arya bang pinatih dan suami saya seorang senggu..
dari awal kami menikah sewaktu saya hamil saya dilarang meminta makanan atau surudan apapun dari rumah bajang saya, dan anak saya juga tidak boleh sembahyang ke pura di rumah bajang saya.
Yang lebih membuat saya bertanya sempat waktu itu saya diantar suami pulang ke rumah bajang untuk sembahyang di pura pekendungan, tapi dia yang sudah berpakaian adat lengkap tidak mau sembahyang katanya hanya mengantar…
Dengan alasan kami berbeda soroh, padahal ketika saya menikah dulu dia juga sembahyang mepamit di pura itu..
apakah benar memang tidak boleh??
Saya hanya memendam rasa kekecewaan saya, dan saya berpikir keyakinan tidak bisa dipaksakan, namun saya ingin tahu kebenaran dari keyakinan suami saya itu..
Terimakasih…. Tolong saya diberi tuntunan….
Jawaban oleh: Ida Pandita Mpu Jaya Acharya Nanda
Memang ini yang banyak terjadi di Bali.
Kita masih terjebak oleh ranah soroh.
Setiap soroh selalu mereproduksi identitasnya, membuat kuasa wacana untuk mempertahankan superioritas clan sendiri.
Kalau kita bicara masalah hidup damai, bukankah rumah tangga adalah tempat dimana kedamaian itu berada?
Pada prinsipnya, kita ada pada satu istilah, yaitu manusia.
Apabila manusia tidak mau sembahyang dengan alasan beda soroh, mengapa hewan harus mereka korbankan di sanggah pemerajannya?
Apa ini untuk memenuhi egonya?
Atau hanya ingin menunjukkan prestisius kepada yang lain?
Sadari itu semua wahai saudara-saudara ku. Mari buka lembaran.
Dalam Bhagavadgita dijelaskan, akulah Brahma yang mejadi ayah dari semua makhluk yang ada di dunia ini.
Jadi kita semua adalah anak-anak Tuhan.
Tidak ada soroh yang bisa menentukan orang mendapat surga atau neraka. Penentuannya ada pada karma.
Tolong buka sekat. Menghormati leluhur itu mulia.
Tapi jika sampai melecehkan leluhur warga lain, bukan kemuliaan yang didapatkan. Tapi kehancuran. (*)