Duka Mendalam atas Kepergian Notaris Gusti Anom, Apa Motif Kematianya?

Selama ini Anom dikenal sebagai sosok yang santun dan ramah. Korban juga aktif dalam kegiatan di banjar dan bersedia berkonsultasi terkait hukum

Duka Mendalam atas Kepergian Notaris Gusti Anom, Apa Motif Kematianya?
Tribun Bali/I Gede Jaka Santhosa
Penemuan jenazah laki-laki di Hutan Klatakan, Desa Melaya, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana dihebohkan oleh penemuan sesosok mayat laki-laki di dalam hutan, Jumat (11/12/2015). 

TRIBUN-BALI.COM, NEGARA – Sesosok mayat laki-laki yang ditemukan warga di Warga di Banjar Klatakan, Desa Melaya, Kecamatan Melaya, Kabupaten Jembrana, Bali, Jumat (11/12/2015) teridentifikasi bernama I Gusti Agung Gede Anom, S.H (57).

Ia adalah seorang notaris di Lingkungan Ketugtug, Kelurahan Loloan Timur, Kecamatan Jembrana.

(Kematian Notaris Gusti Agung Gede Anom di Hutan Klatakan Jembrana Masih Misteri)

Berdasarkan informasi yang berhasil dihimpun Tribun Bali Jumat kemarin, mayat Notaris Anom ini pertama kali ditemukan pukul 08.00 Wita oleh Suyono (52), warga Banjar Klatakan, Desa Melaya, Kecamatan Melaya yang bekerja sebagai satpam pada usaha budidaya mutiara di sekitar lokasi ditemukannya korban.

Tim Inafis berhasil mengidentifikasi korban dengan nama Gusti Agung Gede Anom yang beralamat di Jl. Gunung Bromo, No. 27, Kelurahan Loloan Timur, Kecamatan Jembrana.

Menurut Kelian Tempek Tengah, Banjar Ketutgtug, Desa Adat Loloan Timur, I Kadek Wirahyasa, selama ini Anom dikenal sebagai sosok yang santun dan ramah.

Selain itu korban juga selalu aktif dalam kegiatan di banjar dan bersedia berkonsultasi dengan tetangganya terkait masalah hukum.

Kepergian Anom tak hanya meninggalkan duka dalam bagi istri dan kedua putrinya, tapi juga bagi sejumlah karyawan yang bekerja di kantor notarisnya yang sudah berdiri semenjak tahun 1991 silam.

Kapolsek Melaya, Kompol I Nyoman Nirman, didampingi oleh Kasat Reskrim Polres Jembrana, AKP I Gusti Made Sudharma Putra, menyebutkan, korban berhasil diidentifikasi oleh tim Inafis Polres Jembrana setelah dicek sidik jarinya dengan alat pemindai.

"Saat ditemukan kulit korban telah mengelupas sebagian. Setelah diperiksa oleh tim medis Puskesmas Melaya diperkirakan korban telah meninggal dunia lebih dari 24 jam. Selain itu memang tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan pada jasad korban," terang Kompol Nirman.

Pihaknya kini menunggu keputusan keluarga korban apa mengizinkan untuk dilakukan autopsi atau tidak untuk mengungkap penyebab kematiannya.

Sementara itu, istri korban yakni I Gusti Agung Ayu Mira beserta anak perempuannya yang masih duduk di bangku kelas III SMP tampak sangat terpukul ketika ditemui di depan kamar jenazah RSUD Negara.

Didampingi beberapa kerabatnya, keduanya menolak bercerita mengenai musibah yang menimpa korban.

Mereka hanya menyatakan masih menunggu pihak keluarga besar dari Mengwi, Kabupaten Badung, guna musyawarah tentang keputusan autopsi korban. (*)

Penulis: I Gede Jaka Santhosa
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved