Makelar Lahan Undiksha Didakwa Rugikan Rp 3,7 Miliar

Pria yang berperan sebagai makelar dan pemilik tanah dalam proyek pengadaan lahan ini, didakwa melakukan tindak pidana korupsi dan merugikan negara

Makelar Lahan Undiksha Didakwa Rugikan Rp 3,7 Miliar
Net/google
Ilustrasi Korupsi 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Nyoman Mustiara, terdakwa dalam kasus korupsi pengadaan lahan Fakultas Olahraga dan Keguruan Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha) Singaraja, hanya bisa duduk terdiam di kursi pesakitan Pengadilan Tipikor Denpasar, Bali, saat tim Jaksa Penuntut Umum I wayan Suardi membacakan dakwaan, Selasa (29/12/2015). 

Pria yang berperan sebagai makelar dan pemilik tanah dalam proyek pengadaan lahan ini, didakwa melakukan tindak pidana korupsi dan merugikan negara sebesar Rp 3,7 miliar.

Mustiara tak sendiri, terdakwa I Wayan Suarsa (terdakwa dalam berkas terpisah) selaku Ketua Pengadaan Lahan, pun didakwa dalam kasus yang sama.

Sidang yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Dewa Suarditha dengan anggota Wayan Sukanila dan Sumali diawali dengan menghadirkan terdakwa Mustiara.

Pun untuk sidang dengan terdakwa Wayan Suarsa, JPU mendakwa dengan pasal yang sama dan atas perbuatannya negera telah dirugikan Rp 3,7 miliar.

Dipaparkan JPU dalam dakwaannya, Mustiara bersama Wayan Suarsa, beserta Dewa Komang Indra, Nengah Nawa, I Gst Putu Sugiwinatha (saksi dan tersangka) telah melakukan atau turut serta melakukan perbuatan melawan hukum, memperkaya diri sendiri atau orang lain, atau suatu korporasi yang dapat merugikan keuangan negara dalam pengadaan tanah untuk pembangunan kampus Fakultas olahraga dan keguruan (FOK) Undiksha tahun 2010 di Desa Jineng Dalem, Buleleng.

Kasus ini berawal dari rencana induk pengembangan Undiksha (master plan) tahun 2006 sampai 2011 yang draf proposalnya disusun oleh bagian perencanaan, yaitu I Gst Putu Sugiwinatha (tersangka dalam berkas terpisah).

Selanjutnya dilakukan rapat untuk mengajukan DIPA 2010 yang akhirnya memutuskan lokasi pembangunan kampus di Desa Jineng Dalem.

“Selanjutnya saksi Prof Sudiana membentuk tim pengadaan dengan susunan, penanggung jawab Prof Sudiana, wakil dr I Nyoman Jampel dan Prof Seken, Ketua I Wayan Suarsa, dengan anggota Ketut Suma, Wayan Rai, IB Emartha, Ketut Suanjaya, IGB Semadi Putra dan Made Arnawa,” jelas Jaksa Suardi.

Setelah membentuk tim pengadaan lahan, terdakwa Wayan Suarsa pun diutus melakukan pengecekan lokasi dan menemui Nengah Nawa (tersangka Kepala Desa Jineng Dalem).

Dari pertemuan tersebut, selanjutnya Nengah Nawa selaku Perbekel Desa Jineng Dalem mengeluarkan surat yang menyatakan bahwa tanah kaplingan di Dusun Tingkih, Desa Jineng Dalem seharga Rp 20 juta per are.

Di balik pengadaan lahan ini lah, terkuak rata-rata lahan tersebut baru dibeli oleh pemilik, dan bahkan salah satu pembeli I Kadek Yoni tengah melakukan proses balik nama tanggal 16 Desember 2010, yang kemudian tanah tersebut dijual ke Undiksha.

”Termasuk terdakwa Mustiara sebagai pemilik 4 bidang lahan seluas 23.310 meter persegi yang dibeli dari saksi Budiarsana dan baru dibalik nama tanggal 15 Desember 2010,” ujar Jaksa Suardi. (*)

Penulis: Putu Candra
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved