Young Gen

Gita Kumara, Satu-satunya Marching Band SMP Negeri di Denpasar

Marching Band Gita Kumara merupakan satu-satunya marching band dari Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) di Denpasar.

Gita Kumara, Satu-satunya Marching Band SMP Negeri di Denpasar
Tribun Bali/Luh De Dwi Jayanthi
Peserta Marching Band Gita Kumara menari mengikuti irama musik di Denpasar Festival, Lapangan Puputan Denpasar, Kamis (31/12/2015) 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Luh De Dwi Jayanthi

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Marching Band Gita Kumara merupakan satu-satunya marching band dari Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) di Denpasar. Marching band asal SMP Negeri 8 Denpasar yang berdiri sejak 1 April 1987 ini tampil di antara marching band lain di Denpasar Festival, Lapangan Puputan, Denpasar, Kamis (31/12/2015).

Sekitar 60 siswa SMP kelas tujuh, delapan dan sembilan hadir dengan balutan busana nuansa kuning dan biru gemerlap khas marching band. Mereka ada yang menari sambil membawa tongkat bendera dan memainkan musik di atas panggung.

Seluruh pemain ini bermain di panggung selatan, menghadap ke utara tempat field commander memberikan aba-aba. Begitu aba-aba dimulai dilemparkan, sontak suara snare, bass, terompet, baritone horn, trio tom tom, marching bells, dan symbal melantunan lagu What’s Make You Beautiul dari One Direction.

Kemudian dilanjutkan dengan lagu Anak Sekolah dari Chrisye dan ditutup lagu Firework dari Katy Perry. Tema yang diangkat yakni tentang siswa yang akan balik ke sekolah dengan penuh semangat.

Penari di lapangan yang semuanya perempuan tampak tersenyum sambil menggerakkan tongkatnya di bawah terik sinar matahari yang menyengat.

Berbeda dengan pemain musik yang stay di panggung yang terlindungi atap tenda biru.

Arranger musik sekaligus pembinan Marching Band Gita Kumara, I Wayan Sudarsana mengatakan, SMP Negeri 8 Denpasar memang satu-satunya marching band SMP negeri di Denpasar.

“Saya sebagai seorang seniman tradisi termotivasi untuk merambah kesenian modern saja dengan melatih marching band,” ujarnya.

Sudarsana sebagai militan marching band mengatakan ini murni sebagai bentuk kesenian, tidak ada unsur yang lain. “Saya ingin SMP Negeri 8 Denpasar itu eksis, kita jalan dengan alat yang ada meskipun dana minim dibanding swasta,” ungkap guru kesenian ini.

Ia meyakini, setiap manusia itu memiliki melodi dan jiwa seni. “Kita harus senantiasa mendukung marching band di sekolah agar berjalan secara keberlanjutan. Meski ini kegiatan besar dan kolosal yang memerlukan dana cukup besar,” ujarnya.

Peserta marching band ini berlatih hampir setiap hari di sekolah dengan durasi waktu selama dua jam. Diambil waktu sore agar tidak mengganggu kegiatan belajar dan mengajar di kelas.

Untuk menjadi anggota marching band, siswa memasuki masa orientasi bulan Agustus. “Persiapannya cukup singkat karena kami melakukan orientasi bulan Agustus, lalu latihan dan Desember harus tampil,” imbuhnya.

Marching band Gita Kumara ini juga aktif tampil dalam Kuta Karnaval, Natal dan Paskah di Hotel Grand Mirage setiap tahunnya, Hari Anak Indonesia, Melepas Matahari, Denpasar Festival dan event lainnya.(*)

Editor: gunawan
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved