Ekonomi Membaik Rupiah Menguat

Rupiah kembali mencatatkan penguatan signifikan, terimbas sentimen positif ekonomi global dimana pemerintah Tiongkok mengumumkan Neraca Perdagangan.

Ekonomi Membaik Rupiah Menguat
Istimewa
Valuta asing dengan mata uang jenis dolar Amerika 

TRIBUN-BALI.com, DENPASAR - Indikasi global opening rate bursa Wall Street ditutup melemah yang ditandai dengan penurunan indeks Dow Jones sebesar 364.81 poin (-2.21 persen) ke level 16,151.41.

Indeks S&P 500 melemah 48.40 poin (+2.50 persen) ke level 1,890.28.

Dan indeks Nasdaq turun 159.85 poin (-3.41 persen) ke level 4,526.06.

Sementara itu dari pasar obligasi Pemerintah AS (US Treasury) tenor 10 tahun, imbal hasilnya turun sebesar 1 bps ke level 2,094 persen, terimbas laporan (Beige Book) Federal Reserve yang menunjukkan pertumbuhan ekonomi AS masih moderat.

Menurut Rifka Ilham selaku Dealer TRA BNI Denpasar, Bali, sinyal positif data klaim pengangguran AS (Initial Jobless Claims) yang akan dirilis nanti malam, diperkirakan turun di pekan kemarin, berpeluang dapat menopang nilai tukar dolar untuk rebound di perdagangan global hari ini.

Sedangkan untuk indikasi lokal rate, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat ke level 4,537.18 atau naik 24,65 poin (+0,55 persen) dari penutupan hari sebelumnya.

Sedangkan investor asing mencatatkan jumlah penjualan bersih sebesar Rp 42 miliar.

"Rupiah kembali mencatatkan penguatan yang signifikan, terimbas sentimen positif ekonomi global dimana pemerintah Tiongkok mengumumkan Neraca Perdagangan di bulan Desember yang mengalami kenaikan sebesar 60.09 miliar dolar AS vs 54.10 miliar dolar AS periode sebelumnya bahkan kontras dari prediksi pelaku pasar memperkirakan turun ke level 51.30 miliar dolar AS," katanya.

IDR (Rupiah) pagi ini dibuka menguat di level 13,830.0 berdasarkan data Reuters.

Rupiah diperkirakan bergerak melemah menjelang hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang rencananya diumumkan hari ini.

Aksi wait and see pelaku pasar diprediksi akan meningkat ditengah peluang Bank Indonesia untuk menurunkan tingkat suku bunga acuan, cukup terbuka lebar di mana tingkat inflasi di akhir tahun 2015 berada di level 3,35 persen.

Namun gejolak ekonomi global yang belum kondusif diprediksi menjadi pertimbangan BI dalam memutuskan tingkat suku bunga acuan di awal tahun 2016 ini.

Indikasi valas BNI
Kamis (14/1/2016):
USD/IDR 13855-13885
Euro/IDR 14090-15124
Sgd/IDR 9620-9650
Aud/IDR 9600-9630
Jpy/IDR 118.00-118.30
Gbp/IDR 19945-19986

Major ccy
Eur/USD 1.0880-1.0904
Gbp/USD 1.4383-1.4407
Aud/USD 0.6920-0.6944
Usd/jpy 117.30-117.50

Commodity
Oil 30.35
Gold 1092.31

*indikasi rate berubah sewaktu waktu dan untuk transaksi valas non fisik minimal USD 10.000 (ekuivalen mata uang lain). (*)

Penulis: AA Seri Kusniarti
Editor: Kander Turnip
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved