Breaking News:

Tragedi Angeline

Agustay Akui Buka Celana di Depan Margriet

“Margriet bilang, andaikan saya tertangkap jangan melibatkan dia. Itu tujuan dari uang Rp 200 juta,"

Penulis: Putu Candra | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Tribun Bali/I Nyoman Mahayasa
Agustay Handa May, terdakwa kasus pembunuhan bocah berumur 8 tahun, Engeline, saat memberikan keterangan di persidangan di PN Denpasar, Selasa (19/1/2016). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Agustay Handa May, terdakwa dalam kasus pembunuhan Engeline mengakui dirinya hanya bercelana dalam di hadapan Margriet Ch Megawe saat kematian Engeline.

Pengakuan ini disampaikan Agustay saat menjawab pertanyaan majelis hakim di persidangan di Pengadilan Negeri Denpasar, Bali, Selasa (19/1/2016).

Ketua majelis hakim Edward Harris Sinaga mencoba menggali lebih dalam hubungan antara Agustay dan Margriet.

“Waktu kamu diminta buka celana oleh Margriet di kamarnya. Kamu telanjang kan? Dan kalau ke kamar mengambil celana pasti telanjang kan? Kalian ini seperti akrab betul,” ucap hakim Edward.

“Saya buka celana di kamar Margriet, saya ke kamar hanya memakai celana dalam, dan saya ke kamar lagi ambil celana,” jawab Agustay.

Pada persidangan kemarin, Agustay juga mengakui perbuatannya, ikut serta mengubur dan menyembunyikan kematian bocah 8 tahun bersama terdakwa Margriet Ch Megawe.

Selain mengakui perbuatannya, pria asal Sumba ini pun siap menerima konsekwensinya, bahkan jika majelis hakim pimpinan Eward Harris Sinaga menjatuhkan hukuman mati.

“Kalau mau dihukum mati pun saya siap, karena perbuatan ini saya bertanggungjawab. Semua yang saya terangkan benar, tidak ada yang saya tutupi yang mulia,” ujar Agustay saat diperiksa di persidangan di Pengadilan Negeri Denpasar, kemarin.

Kata tersebut muncul, saat hakim anggota Achmad Peten Sili belum yakin dengan Agustay terkait keterangan BAP awal yang mengakui dirinya sebagai pembunuh, kemudian diubah dengan keterangan, Margrietlah sebagai pembunuh Engeline.

“Sampai hari ini kamu terlihat belum jujur Gus. Jangan sampai kami salah memutus, dan ini menghukum mati seseorang," ujar Hakim Achmad Pene Sili.

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved