Jembatan Tukadaya Jebol

Pengalihan Arus Denpasar-Gilimanuk, Warga Khawatir Jembatan Alternatif Juga Ambruk

Warga khawatir jembatan kecil yang telah berumur puluhan tahun tersebut ikut ambrol akibat dilalui kendaraan pengangkut barang.

Pengalihan Arus Denpasar-Gilimanuk, Warga Khawatir Jembatan Alternatif Juga Ambruk
Tribun Bali/I Gede Jaka Santhosa
Sebuah truk melintas di atas jembatan penghubung Banjar Anyar dan Banjar Taman, Desa Batuagung, Jembrana, Minggu (24/1/2016). 

TRIBUN-BALI.COM, NEGARA - Pengalihan arus ke sejumlah jalur alternatif setelah jembatan utama di Dangin Tukadaya, Desa Dangin Tukadaya, Kecamatan/Kabupaten Jembrana, Bali, jebol, Sabtu (23/1/2016) malam mulai menuai protes warga.

Seperti jalur alternatif melalui jembatan penghubung di Banjar Anyar dan Banjar Taman, Desa Batuagung, Jembrana diprotes.

(Jembatan Darurat Denpasar-Gilimanuk Rampung dalam Sepekan, Ini Batas Tonasenya)

Warga khawatir jembatan kecil yang telah berumur puluhan tahun tersebut ikut ambrol akibat dilalui kendaraan pengangkut barang.

(Jembatan Tukadaya Jembrana Ditarget Rampung 4 Bulan)

Sejumlah truk engkel yang mengangkut material juga tampak lalu lalang masuk ke lokasi pengalihan arus menuju utara ke Banjar Anyar dan melewati jembatan sempit sepanjang sekitar 10 meter dan lebar 2 meter tersebut.

Warga yang ditemui Minggu (24/1/2016) mengaku, mereka khawatir jembatan sempit bakal ambruk karena sering dilalui kendaraan pengangkut material.

“Kenapa truk-truk dibiarkan lewat jembatan yang sudah rusak begitu. Khawatir kami jembatan ambrol karena jembatannya sudah tua. Konstruksi tidak meyakinkan dan tidak pernah diperbaiki juga,” ungkap Komang, warga asal Banjar Taman ketika ditemui di lokasi ambruknya jembatan Dangin Tukadaya kemarin.

Kepala Desa Batuagung, Ida Bagus Komang Widiarta mengatakan, pihaknya belum mendapatkan laporan keluhan warga tersebut baik dari warga langsung maupun dari Kelian Banjar Anyar dan Banjar Taman.

Namun, pihaknya mengaku akan segera berkoordinasi dengan pihak kecamatan dan kabupaten guna mengantisipasi kekhawatiran warga.

“Kami coba akan kami koordinasikan dulu di kabupaten. Jembatannya memang sudah tua, dibangun sekitar tahun 1992 silam,” kata Widiarta. (*)

Penulis: I Gede Jaka Santhosa
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved