Pasek Suardika Minta Mangku Pastika Larang Reklamasi Layaknya Memberantas Judi Tajen

Pasek mengaku miris, jika sulinggih harus masuk dalam legitimasi dalam konflik ini. Sebab, kemudian terus membuat sebuah kajian yang kemudian digencet

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Rencana Reklamasi Teluk Benoa seluas 720 hektare membuat para sulinggih (pemuka agama Hindu di Bali) beberapa waktu lalu angkat bicara mengenai pengkajian kesucian Pulau Pudut (zona suci).

Atas hal ini, Gede Pasek Suardika menyatakan, bahwa seharusnya dalam konteks seperti saat ini, para ‎sulinggih tidak ditarik-tarik dalam urusan semacam ini.

Sebab, ini menjadi konflik tersendiri di masyarakat Bali.

"Seharusnya, sudahlah para sulinggih fokus urusan untuk menegakkan bhisama (Fatwa Hindu) saja," ujar Pasek, Selasa (2/2/2016).

Pasek mengaku miris, jika sulinggih harus masuk dalam legitimasi dalam konflik ini.

Sebab, kemudian terus membuat sebuah kajian mengenai kesucian pura yang kemudian digencet sedemikian rupa.

"Jangan dibuat seperti itulah. Dan sudah diketahui jika 12 desa adat sudah menolak tegas, seharusnya itulah yang dilakukan untuk Bali," ungkapnya.

‎Dengan demikian, pemangku jabatan, khususnya Gubernur Bali, Made Mangku Pastika dan juga semua yang berperan menggolkan reklamasi memikirkan dampak mengenai lingkungan yang terjadi pada 12 desa adat tersebut.

Apalagi, tugas pemimpin ialah melaksanakan keinginan dan kebutuhan rakyatnya.

"Dulu Pak Mangku Pastika kan bisa melarang tajen dan sudah diberantas dan ditangkap. Jika memungkinkan, reklamasi itu juga dilarang seperti halnya tajen. Kan bisa saja keputusan itu diambil," pungkasnya. (*)

Penulis: I Made Ardhiangga Ismayana
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved