Music Zone
Broken Radio Rilis Album Kedua Soal Kesulitan Cari Kerja dan Makan
Broken Radio, unit pop-punk asal Pulau Dewata, baru saja merampungkan album kedua mereka.
Penulis: Cisilia Agustina. S | Editor: Irma Yudistirani
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Broken Radio, unit pop-punk asal Pulau Dewata, baru saja merampungkan album kedua mereka.
Bertajuk Jengah, album yang telah digarap selama kurang lebih 3 tahun ini akhirnya siap ditelurkan pada para penikmat musiknya.
Konsep album Jengah dari band yang digawangi Shandi Saputra (vocal, guitar), Balock (bass, vocal), dan Wah Alit (drum) ini adalah sebuah bentuk perjuangan di masa modern saat ini.
Kesembilan lagu dalam album ini antara lain Jengah, Hidup Bli, Sederhana, Malam Ini, Sometimes, Ada Cinta, Ampurayang, Tenanglah, dan KUTAKANAFEESINYAKA.
“Album ini menceritakan tentang sebuah perjuangan hidup, dengan kehidupan sekarang, banyak kesulitan. Seperti susah mencari pekerjaan, susah mencari makan. Hal-hal seperti itulah yang kami tuangkan dalam album ini,” ujar Shandi kepada Tribun Bali, Jumat (5/2/2016).
Pada album Jengah, trio punk rock ini menghadirkan warna musik yang lebih bervariasi, dengan menyisipkan sentuhan elektro, reggae, dan jenis musik lainnya.
Berbeda pada album sebelumnya, Tusing Menyerah.
“Kami tidak lari dari konsep awal kami. Hanya kali ini, di album kedua lebih matang,” ujar Shandi.
Sementara itu, sang bassist, Balock menambahkan, berbagai eksperimen dihadirkan untuk konsep aransemen musiknya sehingga sangat berbeda jika didengar dan dibandingkan dengan album pertama mereka.
“Di album pertama kami alternatifnya lebih ke arah pop. Namun di album kedua banyak eksperimen, tujuannya biar beda dan tidak monoton. Dari tiap lagu pun menampilkan variasi musik yang berbeda,” ujar Balock.
Tak hanya menjadi proyek bertiga para personel Broken Radio. Album kedua yang direkam di berbagai studio dan melibatkan banyak arranger ini menjadi proyek bersama dengan teman-teman lain di luar Broken Radio, yaitu Gede Purnamajaya, Andi Duarsa, dan Gung Pw.
“Tiga tahun memang bukan waktu yang singkat, mungkin bagi band lain dalam waktu cepat bisa menelurkan album. Tapi memang kami sempat melalui berbagai proses dan kendala sehingga baru bisa ditelurkan saat ini. Awalnya rencana rilis itu akhir 2013,” ujar Gede.
Konsep album Jengah ini, dikatakan Gede, juga merepresentasikan dan cocok untuk kondisi yang sempat dialami oleh Broken Radio.
Namun yang tetap ditampilkan oleh Broken Radio adalah materi lirik lagu yang selalu diambil dari cerita kehidupan dan isu yang terjadi di sekitar.
“Masih tentang kehidupan sehari-hari, dan tetap juga ada lagu cinta, galau-galauan yang kami ciptakan di sini,” ujar Balock. (*)
Info ter-UPDATE tentang BALI, dapat Anda pantau melalui:
Like fanpage >>> https://www.facebook.com/tribunbali
Follow >>> https://twitter.com/Tribun_Bali
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/broken-radio_20160208_141726.jpg)