Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Hari Raya Nyepi

Umat Islam Shalat Gerhana Matahari Saat Nyepi, Ini Keputusannya!

Ada tujuh poin seruan yang diputuskan, yang utamanya mengenai imbauan dan larangan yang wajib dipatuhi selama perayaan Hari Raya Nyepi, 9 Maret 2016

Tribun Bali/AA Gde Putu Wahyura
Rapat koordinasi lintas lembaga keagamaan dan instansi terkait Provinsi Bali 2016, di kantor wilayah Agama Provinsi Bali, Selasa (16/2). 

Laporan Wartawan Tribun Bali, A.A. Gde Putu Wahyura

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Jelang perayaan Hari Raya Nyepi Tahun Caka 1938, majelis-majelis agama dan keagamaan Provinsi Bali membuat seruan bersama.

Ada tujuh poin seruan yang diputuskan.

Utamanya mengenai imbauan dan larangan yang wajib dipatuhi selama perayaan Hari Raya Nyepi, 9 Maret 2016 mendatang.

(Ini Kata Ketua MUI Bali Terkait Shalat Gerhana Matahari Saat Nyepi)

Beberapa poin patut dicermati umat Hindu dan pelaku pariwisata di Provinsi Bali.

Di antara seluruh seruan tersebut, Parisadha Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali paling menyoroti mengenai paket hiburan di villa ataupun hotel.

Ketua PHDI Bali, Prof I Gusti Ngurah Sudiana, mengatakan masyarakat ataupun wisatawan yang menginap di hotel diharapkan juga menjalankan Nyepi di hotel. 

Mereka tidak diperbolehkan untuk menggelar acara hiburan, seperti musik ataupun tari-tarian. 

“Meskipun bunyinya tidak terdengar hingga ke luar villa atau hotel, tetap saja hal itu dapat dideteksi oleh satelit. Oleh karena itu, saya mengingatkan agar pihak hotel benar-benar mematuhi seruan yang sudah ditetapkan,” ujar Sudiana selepas rapat koordinasi lintas lembaga keagamaan dan instansi terkait Provinsi Bali 2016, di kantor wilayah Agama Provinsi Bali, Selasa (16/2/2016).

PHDI juga telah memperhitungkan sanksi bagi pihak villa atau hotel yang melanggar.

Menurut Sudiana, General Manager (GM) hotel bisa dikenai banyak sanksi.

Ia mengharapkan agar pemilik hotel yang merupakan umat Hindu lebih dahulu memberikan contoh.

Jangan sampai justru ikut-ikutan melakukan pelanggaran.

Menurutnya, pelanggaran terhadap seruan ini dapat dikategorikan sebagai penodaan terhadap kesucian hari Raya Nyepi atau mungkin saja penodaan Agama Hindu.

 “Kalau ada pelanggaran di luar seruan ini, perlahan-lahan GMnya bisa kena sanksi. Sanksinya banyak, itu termasuk penodaan kesucian hari Raya Nyepi, termasuk penodaan Agama Hindu. Mungkin saja nanti izin memperpanjang usaha susah, kalau GMnya itu orang asing, nanti bisa dideportasi. Kalau hotel milik orang Bali, harus memberi contoh, jangan sampai hotel milik orang Bali yang justru melanggar,” jelasnya.

 Selain itu seruan ini juga diberlakukan bagi umat agama lain. Apalagi bertepatan dengan hari Raya Nyepi, juga terjadi gerhana matahari. Saat itu umat muslim melakukan Shalat Gerhana Matahari.

Hal ini pun telah diatur bersama-sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bali.

Shalat dipastikan akan usai pada pukul 07.15 Wita. 

“Sholat bertepatan dengan gerhana matahari, sudah dibicarakan dengan MUI jam 07.15 Wita sudah selesai dan itu di masjid terdekat. Umat muslim berjalan kaki dan tidak menggunakan pengeras suara digabung dengan shalat subuh,” tegas Sudiana.

Hal yang sama juga berlaku apabila bertepatan dengan hari Raya Nyepi, juga ada piodalan di pura.

Umat Hindu tetap diperbolehkan menggelar piodalan, hanya saja tidak menggunakan gong, tidak memukul kulkul, tidak membunyikan genta, dan menggunakan sulinggih.

Umat juga diharapkan tidak mengundang kerabat dari jauh.

“Piodalan yang jatuh pada saat hari Raya Nyepi, jam 06.00 Wita sudah selesai, tidak pakai gong, tidak nepek kulkul, dan tidak memakai dupa serta membunyikan genta. Kemudian tidak mengundang sulinggih, tidak undang kerabat jauh, odalan Nyepi. Kalau bisa odalan ada penangguh piodalan, sehingga tidak mengundang hal-hal yang bertentangan dengan Hari Raya Nyepi,” jelasnya.

Sudiana juga menyampaikan seruan yang diputuskan, di antaranya larangan penyiaran radio dan televisi dari tanggal 9 Maret 2016 pukul 06.00 sampai dengan Kamis, 10 September 2016 pukul 06.00 Wita.

Selain itu keputusan ini akan diteruskan oleh bupati/wali kota kepada masyarakat luas di kabupaten/kota. 

“Seruan ini bersifat umum, nanti akan diterjemahkan lagi di tingkat kabupaten/kota. Waktunya tergantung dengan bupati di daerah masing-masing,” ujarnya.

Hal yang sama juga diutarkan oleh Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Bali, A.A Gde Muliawan. Usai rapat ia menyampaikan bahwa koordinasi ini bertujuan untuk menjaga toleransi dan kerukunan beragama. 

Hasil rapat ini sebagai acuan untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan saat Hari Raya Nyepi.

Seruan ini diharapkan dapat diteruskan kepada tokoh-tokoh agama, dan umatnya masing-masing.

“Kegiatan ini sebagai antisipasi, agar semua tokoh menyampaikan kepada umatnya masing-masing agar memaklumi dan menyadari ini yang kami lakukan demi kebaikan bersama. Misalnya tahun-tahun lalu, Nyepi itu bertepatan dengan Hari Jumat, bagaimana kita susun agar Umat Islam bisa ke masjid yang terdekat, tidak menyeruakan bunyi-bunyian sampai keluar, sehingga umat Hindu bisa melaksanakan Nyepi dengan hikmat,” tandasnya. (*)

//

#BaliWUJUD TOLERANSI UMAT BERAGAMA DI BALI...--> http://goo.gl/mDp9FgIni kata Ketua MUI Bali terkait Shalat Gerhana Matahari saat Nyepi

Dikirim oleh Tribun Bali pada 16 Februari 2016

//

#BaliUMAT ISLAM DI BALI SHALAT GERHANA MATAHARI SAAT NYEPI..--> http://goo.gl/2d7hlWAda tujuh poin seruan yang diputuskan. Baca selengkapnya di sini !

Dikirim oleh Tribun Bali pada 16 Februari 2016
Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved