Breaking News:

Tragedi Angeline

Agustay : Saya Bukan Koruptor Tapi Kenapa JPU Tega Menuntut Saya 12 Tahun

Agus meminta supaya dibebaskan atau paling tidak dihukum ringan

Tribun Bali / I Made Ardhiangga Ismayana
Agus Tay Handamay membacakan pembelaannya di Pengadilan Negeri Denpasar, Bali, Selasa (16/2/2016) 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Agus Tay Handamay membacakan tanggapan (Duplik) dari tanggapan JPU (Replik).‎

Ada empat poin yang dibacakan dalam persidangan lanjutan di ruang sidang Cakra, Pengadilan Negeri Denpasar, Bali, Senin (22/2/2016) sore ini.

Intinya, Agus meminta supaya dibebaskan atau paling tidak dihukum ringan.

Empat poin itu di antaranya, Agus mengulas bahwa dirinya bekerja pada Maret 2015 silam di rumah Margriet hingga 26 Mei 2015.

Dan di rentang itu tidak ada kekerasan di hadapan Agus.

Tapi, dari cerita oleh dua penghuni rumah yakni Susiani dan Handono, pada 15 Maret 2015 Engeline menangis dan kupingnya mengeluarkan darah.

Kedua, Agus menyatakan, jika seseorang dapat dipersalahkan melakukan tindak pidana pembiaran melakukan kekerasan ketika di hadapan orang tersebut, diketahui secara berulang-ulang.

Sedangkan, berminggu-minggu Agus tidak mengetahui hal tersebut.

Ia mengaku, jika tidak pernah terjadi kekerasan di matanya (secara langsung) oleh Margriet terhadap Engeline.

Keucali, yang terjadi di hitungan menit sebelum Engeline meninggal, saat dirinya masuk ke kamar Margriet.

Ketiga, mengenai perilaku yang tidak melaporkan ke polisi sesudah Engeline meninggal, dia mengaku, ketakutan atas ancaman dari Margriet.

Bahkan, dirinya kabur dari rumah karena dirinya dikejar mau dibunuh memakai parang pada 24 Mei 2015.

Dan atas hal itu, dia tidak melapor ke polisi sesudah Engeline meninggal dan tidakan tidak melapor polisi tersebut, bukan tindakan pidana pembiaran, menurut Agus.

Dia mengklaim, hal itu dikarenakan dirinya hanya seorang pembantu, sangat takut kepada polisi.

Tuduhan JPU yang menyalahkan dirinya tidak melaporkan ke polisi dan satu bulan sejak 16 Mei hingga 10 Juni 2015, bukanlah penyebab matinya Engeline dan bukan unsur dari tindakan pembiaran kekerasan. Karena, kekerasan tersebut terjadi sebelumnya.

Terakhir, dirinya mengucapkan terimakasih kepada tim penasihat hukumnya Hotman Paris Cs yang telah berjuang walaupun tanpa dibayar honornya.

"Majelis hukum yang terhormat saya telah bersikap jujur selama persidangan ini. Saya, datang ke Bali hanya demi sesuap nasi akan tetapi nasib saya membuat saya berkeja di tempat yang salah," ucapnya, Selasa (2/2/2016).

"Saya bukan koruptor yang hanya dihukum dua tahun, akan tetapi kenapa JPU dengan teganya menuntut saya selama 12 tahun. Padahal, selama persidangan tidak ada satupun pertanyaan JPU tentang tindak pidana pembiaran," imbuhnya.

Dan atas semua itu, Agus mempertanyakan apakah pantas dirinya diganjar 12 tahun penjara. Alasannya, hanya karena dirinya bekerja di tempat yang salah.

"Dan tidak ada satupun pembiaran kekerasan dan berulang-ulang di depan mata saya," pungkasnya. (*)

Penulis: I Made Ardhiangga Ismayana
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved