Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Bali Paradise

Bingung Cari Makanan Harga Terjangkau Saat Malam di Sanur? Ini Surganya

Tempat ini merupakan surga kuliner di malam hari bagi warga lokal maupun turis asing yang tengah menghabiskan waktu liburannya di seputaran Sanur.

Tayang:
Penulis: Ayu Dessy Wulansari | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Tribun Bali/Ayu Dessy Wulansari
Sate kambing 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Bosan dengan makanan western ala kafe atau restoran yang kini makin menjamur di Bali?

Kenapa tidak memilih untuk datang ke Pasar Malam Sindu atau Sanur Night Market yang beralamat di Jalan Danau Tamblingan, Sanur, Denpasar.

Sanur Night Market disebut-sebut sebagai satu di antara pasar malam terbaik di Bali.

Tempat ini merupakan surga kuliner di malam hari bagi warga lokal maupun turis asing yang tengah menghabiskan waktu liburannya di seputaran Sanur.

Saat pagi hari, pasar menjual kebutuhan harian, seperti sayur, buah, daging, bumbu masakan, hingga keperluan sarana upacara bagi umat Hindu.

Pasar malam atau yang terkenal dengan nama pasar senggol ini hanya dibuka saat sore hari, yaitu sekitar pukul 18.00 Wita dan tutup sekitar pukul 23.00 Wita.

Makin malam, kondisi pasar makin ramai dikunjungi.

Orang lokal dan turis berbaur mencari dan berkeliling makanan apa yang mereka inginkan.

Setidaknya ada sekitar 30 food stall di dalam area Sanur Night Market.

Di sinilah berbagai jenis macam Indonesian street food dapat ditemui.

Dari masakan Bali dan Jawa, seperti nasi campur, bakso, sate, ayam goreng, nasi goreng, semuanya lengkap tersedia di Sanur Night Market.

Sebuah tempat yang menyuguhkan aneka jenis hidangan dengan tampilan sederhana namun rasa yang menggoda.

Rasa dan suasana makan malam yang tak pernah didapatkan ketika makan di kafe atau restoran.

Dentingan sendok garpu beradu, menyatu dengan suara obrolan pengunjung yang datang.

Sesekali musik dangdut terdengar jelas karena di tempat yang sama juga terdapat pedagang yang menjual kaset, baju, dan keperluan sandang lainnya

Berjalan-jalan atau mengelilingi pasar sebelum memutuskan hendak makan apa adalah yang sering dilakukan turis asing.

Seperti Liam Oliver, turis asal Inggris yang baru pertama kali datang ke Sanur Night Market.

“Saya sudah berkeliling sekitar 10 menit dan belum bisa memilih mau makan apa. Semua terlihat enak dan menarik. Local food adalah yang selalu saya cari ketika mendatangi sebuah negara. Low prices with good taste,” katanya.

Ya, bagi yang pertama berkunjung ke Sanur Night Market mungkin akan sedikit kebingungan ingin makan apa.

Setiap stan menyajikan makanan andalan dengan harga yang terjangkau.

Terdapat satu stan makanan yang khusus menjual jajanan tradisional Bali dan ramai didatangi pengunjung.

Made Rai Astuti, pedagang jajanan Bali ini sudah berdagang sejak dirinya masih duduk di bangku SMP.

“Dulu saya sama kakak berjualan di sini dari 1994 dan saya meneruskan usaha ini,” kata wanita berusia 35 tahun itu.

Stan sederhana miliknya menjajakan beragam jenis jajan pasar.

Mulai dari pisang rai, giling-giling, bedil, lukis, laklak, bubuh sumsum, ketan hitam dan ketan putih tersedia di tempat milik Made.

“Semuanya saya buat sendiri. Biasanya saya mulai bikin jam 09.00 Wita dan yang paling laris adalah bubuh sumsum,” jelasnya

Pengunjung bisa memilih satu jenis jajan dengan harga Rp 3.000 atau mencampur semua jajan yang ada yang harganya hanya Rp 5.000. Jajan dibungkus dalam kertas minyak dengan tambahan parutan kelapa dan siraman gula merah cair.

Bule Lebih Suka Sate Ayam


Kurang merasa kenyang dengan jajan tradisional yang enak dan murah, pengunjung masih bisa mengeksplor dan mencari food stall lainnya.

Bagi pengunjung Muslim, Sanur Night Market juga bisa menjadi referensi tepat karena di sini banyak terdapat masakan khas Jawa.

Satu di antaranya adalah Warung Muslim Madura.

Kepulan asap dari pembakaran dengan aroma yang khas berhasil menarik perhatian orang-orang.

Warung ini khusus menjual sate kambing, sate ayam, dan gulai kambing.

Bapak Jaya, begitu panggilan pria yang merupakan pemilik Warung Muslim Madura ini.

Ia bertugas untuk membakar semua sate dengan kipas dari anyaman bambu dan bantuan kipas angin mungil.

Dibantu dengan istri dan anaknya yang menyiapkan dan melayani pesanan dari pengunjung.

Tak hanya orang lokal yang gemar menyantap sate di warung ini. Kerap kali meja makan juga dipenuhi oleh turis asing.

“Bule lebih suka sama sate ayamnya. Biasanya bisa habiskan sekitar 500 tusuk sate per hari. Dan sate kambing sekitar 200 tusuk,” ungkapnya sambil tetap mengipas sate-satenya.

Lebih dari 20 tahun, ia dan keluarga berjualan sate khas Madura di Sanur Night Market.

Satu porsi berisikan 20 tusuk sate, baik itu ayam atau kambing dipatok dengan harga Rp 20 ribu.

Untuk harga gulai kambing harganya Rp 10 ribu.

Pengunjung bisa memilih lontong atau nasi putih sebagai peneman sate dan gulai.

Warung lainnya yang tak pernah sepi adalah Warung Muslim Banyuwangi dengan gerobak hijaunya.

Konsepnya seperti rumah makan Padang yang sudah menyajikan beragam jenis lauk pauk yang matang.

Pemilik tinggal mengambil lauk yang diinginkan oleh pengunjung.

Masakan yang tersedia lebih pada masakan rumahan khas Indonesia.

Ada ayam goreng, perkedel, ikan goreng, tempe manis, tumis sayur, dan lainnya.

Pilihannya terbilang lengkap dan cocok untuk hidangan saat waktunya makan malam. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved