Ogoh-ogoh Ramah Lingkungan, Pakai Bahan 15 Kg Tembakau

Ogoh-ogoh bertajuk Ngerupuk karya STT Tunas Muda, Banjar Dukuh Merta Jati, Desa Sidakarya, Denpasar, Bali, mengandalkan bahan-bahan ramah lingkungan.

Ogoh-ogoh Ramah Lingkungan, Pakai Bahan 15 Kg Tembakau
Tribun Bali/ Cisilia Agustina Siahaan
Ogoh-ogoh berjudul Ngerupuk menggunakan tembakau hasil kreasi STT Tunas Muda Banjar Dukuh Merta Jati, Sidakarya, Denpasar, Bali, Selasa (1/3/2016). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Ogoh-ogoh bertajuk Ngerupuk karya STT Tunas Muda, Banjar Dukuh Merta Jati, Desa Sidakarya, Denpasar, Bali, mengandalkan bahan-bahan ramah lingkungan.

Ogoh-ogoh ini dibuat menggunakan bahan dari tembakau yang menghabiskan 15 Kg.

"Tembakau ini sebagai bahan alami yang kami gunakan, selain dari ulatan. Tujuannya adalah untuk membangkitkan mental generasi muda untuk cinta dengan alam. Karena alam ini yang telah memberikan kehidupan bagi kita,” ujar I Wayan Adi Jayanatha, Ketua STT Tunas Muda, Selasa (1/3/2016).

Ogoh-ogoh ini dibuat sejak pertengahan Januari 2016, dan rampung pada Rabu (24/2/2016) lalu mendapat peringkat 6 terbaik se Kecamatan Denpasar Selatan.


Ogoh-ogoh berjudul Ngerupuk menggunakan tembakau hasil kreasi STT Tunas Muda Banjar Dukuh Merta Jati, Sidakarya, Denpasar, Bali, Selasa (1/3/2016). (Tribun Bali/ Cisilia Agustina Siahaan)

Menurut Adi, pemilihan bahan tembakau ini sebagai bentuk dukungan pada usaha dagang lokal, khususnya menengah ke bawah, yang ada di Kota Denpasar.

“Sebelum Nyepi, ada Tawur Sanga lalu setelah itu ada yang namanya Ngerupuk, di mana nanti menaburkan beras dan memukul benda-benda yang menghasilkan bunyi tujuannya untuk menetralisir unsur Kala,” ujarnya.

Pada tahun sebelumnya, para pemuda Banjar Dukuh Merta Jati ini berkreasi dengan kulit telur.

Kelian Banjar Dukuh Merta Jati, I Made Werta mengapresiasi kreatifitas sekitar 150 pemuda di banjarnya tersebut.

Penggunaaan tembakau yang ia rasa cukup jarang digunakan, menjadi satu nilai daya tarik tersendiri dari ogoh-ogoh ini.

“Pakai tembakau kan termasuk yang jarang dan selama tidak mengganggu lingkungan, tiang mengapresiasi kreatifitas dari anak-anak di banjar ini. Semoga mereka bisa terus mempertahankan kreatifitasnya dalam berkesenian,” ujar Werta. (*)

Penulis: Cisilia Agustina. S
Editor: Irma Yudistirani
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved