Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Ingin Punya Keturunan, Orang Bali dan Luar Negeri Banyak Berhasil di Patung Bayi Ini

Sepasang tedung dibawanya sebagai terima kasihnya kepada Brahma Rare. Murni berterima kasih karena telah dikaruniai anak laki-laki

Tayang:
Penulis: Luh De Dwi Jayanthi | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Tribun Bali/Luh De Dwi Jayanthi
Piodalan di Patung Bayi pada Anggara Kasih Medangsia di Desa Batuan Kaler, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Rabu (2/3/2016). 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Seorang ibu terlihat nyuun keben (menjunjung tempat sesajen).

Tangan kirinya membawa sepasang tedung.

Ia berjalan dari arah pintu masuk area Patung Bayi. Apa yang dibuatnya?

Suasananya khusuk.

Piodalan sedang berlangsung di Ratu Arca Brahma Rare, biasa disebut Patung Bayi pada Anggara Kasih Medangsia.

Tepatnya di Desa Batuan Kaler, Kecamatan Sukawati, Kabupaten Gianyar, Rabu (2/3/2016).

(Kisah Misteri Dibalik Pembangunan Patung Bayi ‘Raksasa’ Sakah)

Piodalan berlangsung selama dua hari.

Sang ibu bernama Ni Wayan Murni (37).

Malam itu, ia menggandeng anak laki-lakinya, berumur enam tahun.

Sepasang tedung dibawanya sebagai bukti terima kasihnya kepada Brahma Rare yang berstana di Patung Bayi.

Murni berterima kasih karena telah dikaruniai anak laki-laki.

Murni yang berasal dari Desa Batuan Kaler mengaku, dulu dirinya memohon agar dikaruniai anak laki-laki.

Namun pada saat di USG, dokter mengatakan anaknya perempuan.

“Hati saya sedih karena anak pertama saya sudah perempuan. Dalam hati saya sedih tapi saya tidak ungkapkan, apalagi suami saya sudah marah-marah,” ujar Murni yang bekerja sebagai buruh kargo ini.

Murni bercerita. Tatkala hamil anak kedua, dirinya lama tak melahirkan.

Sekitar bulan April, banyak lendir-lendir yang keluar, kontrol ke Rumah Sakit Gianyar dan disarankan USG.

“Saya tak berniat USG, tapi karena mengalami masalah kandungan, ya saya kontrol. Ternyata bayi yang saya kandung perempuan,” ujarnya sambil menyalakan dupa hendak sembahyang.

Ibu dua orang anak ini mengingat saat ia memohon anaknya agar laki-laki, ia menghaturkan pejati dengan sesari lima ribu rupiah dan menghaturkan canang setiap kajeng kliwon di Patung Bayi.

“Karena saya sering lewat, saya haturkan canang tiap kajeng kliwon. Sebenarnya saat itu saya sudah pasrah, apalagi periksa April dan lahirnya Maret. Yang melinggih di sini sangat murah hati,” jelas Murni yang selalu sembahyang tiap piodalan di Patung Bayi.

Dengan nada pelan, Murni mengatakan, baru pertama kali menghaturkan sepasang tedung itu, yang mengartikan taurannya terbayarkan.

“Ini pertama kali saya menghaturkan tedung. Saya ikhlas  berasal dari hati paling dalam. Syukur juga ada rezeki lebih,” ungkapnya dengan senyum lebar.

Cerita Murni diamini oleh Mangku Kocong (46), pemangku pangemong Brahma Rare.

“Memang banyak orang yang meminta dikaruniai keturunan terkabulkan di sini. Tak hanya orang Bali, tapi juga dari luar negeri,” tanggapnya seusai memercikkan tirta kepada pemedek.

Menurut Mangku, saat piodalan hari pertama, ada orang dari Buleleng yang datang membawa kain putih kuning sepanjang tiga puluh meter.

“Itu mereka haturkan karena dikaruniai anak setelah delapan tahun menunggu, umur mereka juga sudah tak muda lagi. Nah, itu kainnya sudah dipasang langsung sebagai saput dan kamen Brahma Rare,” jelas Mangku Kocong sambil menunjuk kain dimaksud.

Selain itu, pemedek juga memohon keselamatan kepada Brahma Rare.

“Ya, banyak juga yang memohon keselamatan. Yang paling banyak itu meminta keturunan dan memohon keselamatan,” tuturnya.

Brahma Rare yang disimbolkan dengan Patung Bayi raksasa duduk bersila ke arah selatan itu memiliki cerita mistis.

“Ceritanya dulu para pendeta menyumbangkan sebuah patung untuk diletakkan di Mas, Ubud. Namun, roh yang mendiami patung itu tak mau. Akhirnya dipindah ke Batuan, setali tiga uang dengan di Mas. Roh itu menginginkan diletakkan di sini, di Sakah,” tuturnya.

Mengenai wujud patung berupa bayi, Mangku Kocong mengatakan, bayi itu sebagai penyebar kebaikan.

“Setahu saya, bentuknya bayi karena menyebar kebaikan,” tuturnya singkat.

Sekitar delapan tahun lalu, upacara besar pertama kali diadakan di Patung Bayi tersebut.

“Saat itu banyak terjadi kecelakaan di sini, setelah mengadakan upacara besar, kecelakaan jarang terjadi lagi,” ungkap Mangku Kocong.

Patung Bayi ini terletak di persimpangan Jalan Raya Sakah, Jalan Raya Mas dan Jalan Raya Kemenuh, Kabupaten Gianyar. 

Ide pembangunannya berawal dari niat mantan Bupati Gianyar Cokorda Darana pada tahun 1989.

Kala itu, Cokorda Darana mengajak sejumlah praktisi sejarah dan prajuru desa Batuan untuk melaksanakan sangkep (rapat).

Tujuan rapat membahas kehendak Bupati Darana untuk membuat patung di seluruh simpang tiga dan simpang empat yang ada di Gianyar.

Rapat pertama tidak menghasilkan keputusan. Kebanyakan peserta rapat kala itu mengajukan ide untuk membangun patung wayang dan patung Kapten I Wayan Dipta.

Akhirnya, setelah dilaksanakan rapat kedua, baru diputuskan untuk membangun patung Sang Hyang Brahma Lelare itu.

Brahma Lelare adalah patung berwujud bayi.

Wujud bayi dipilih karena sesuai filosofi bahwa bayi adalah simbol kelahiran manusia di dunia.

Mengapa patung itu dibangun di Jalan Raya Sakah, tepatnya di Banjar Belah Tanah?

Mungkin itulah yang menjadi pertanyaan sebagian besar masyarakat Bali.

Menurut penjelasan Jero Mangku Ida Bagus Balik, keturunan pendonatur dan pencetus ide pembuatan patung itu, simbol Siwa Budha itu dibangun di sana karena tanah yang terdapat di simpang tiga Jalan Raya Sakah itu, secara niskala disebut Blah –Tanah-Sake-Ah, artinya di tengah belahan tanah, terdapat sebuah sake (adegan) dan ah (tidak ada batas antara atas dan bawah).

Blah Tanah, Sake Ah, itulah Hyang Tibe. Di sebelah barat patung itu kan ada pura Hyang Tibe,” ucap pria berusia 64 tahun ini. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved