Unud Lepas 999 Wisudawan, 148 Orang Magister

Rektor UNUD Prof Ketut Suastika menjelaskan, keseluruhan wisudawan Universitas Udayana sampai hari ini telah berjumlah 75.071 orang.

Unud Lepas 999 Wisudawan, 148 Orang Magister
Tribun Bali/Manik Priyo Prabowo
Rektor UNUD Prof Ketut Suastikaā€ˇ melepaskan 999 wisudawan Universitas Udayana (UNUD) yang ke 116 di Gedung Widya Sabha Universitas Udayana, Jimbaran, Badung, Bali, Jumat (4/3/2016) 

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - Universitas Udayana (UNUD) kembali melepas wisudawan yang ke-116 di Gedung Widya Sabha Universitas Udayana, Jimbaran, Badung, Bali, Jumat (4/3/2016).

Dalam daftar kelulusan UNUD ini, dari 999 lulusan yang ada terdiri dari 18 diploma, 676 S1, 18 orang Profesi Apoteker, 23 Profesi Akutansi, 30 orang Profesi Ners, 1 orang Profesi Dokter Hewan, 27 orang Profesi Dokter, 34 orang Dokter Spesialis-1, 148 orang Magister, dan 24 orang Doktor.

Rektor UNUD Prof Ketut Suastika menjelaskan, keseluruhan wisudawan Universitas Udayana sampai hari ini telah berjumlah 75.071 orang.

Ia beserta seluruh civitas akademika dan karyawan Universitas Udayana, mengucapkan selamat kepada para wisudawan atas keberhasilannya menyelesaikan pendidikan dengan baik, sesuai dengan apa yang telah dicita-citakan oleh para wisudawan.

"Dalam program kelulusan wisuda ini terdapat lulusan yang mampu mencapai IPK 4 dengan predikat kelulusan dengan pujian. Hanya saja kendati predikat pendidikan lebih dari memuaskan, alumnus jangan sampai lengah dan puas diri. Karena, pada akhir tahun 2015 telah diberlakukan perdagangan bebas di wilayah ASEAN, yang lebih dikenal dengan nama Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Idealnya, dengan perdagangan bebas ini, semua Negara ASEAN bisa maju bersama dan mampu bersaing dengan Negara lainnya dengan menghadapi tantangan dunia global secara bersama-sama," imbaunya sebelum membuka pelepasan wisudawan.

Kendati demikian, masih banyak khususnya penduduk Bangsa Indonesia yang khawatir dan pesimis bersaing dan bahkan akan menjadi objek di di dalam persaingan MEA ini.

Selain itu, lanjut Suastika, akhir 2015 lalu, saat Presiden Jokowi bertemu dengan Presiden Obama, ada salah satu topik menarik yang dibicarakan, yaitu kemungkinan Indonesia masuk dalam Trans-Pacific Partnership (TPP).

Dalam TPP tersebut, ditandatangani awal Oktober lalu oleh 12 negara yakni Amerika Serikat, Australia, Brunei Darussalam, Kanada, Cile, Jepang, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Peru, Singapura, dan Vietnam.

Jika Indonesia bergabung dengan TPP, Indonesia wajib membuka sejumlah sektor indutri bagi investasi asing.

Termasuk farmasi, otomotif dan pertanian.

"Kalau investasi berhasil tertanam di Indonesia, maka kesempatan lapangan pekerjaan dari berbagai bidang akan terbuka bebas. Hanya saja dengan adanya MEA, maka alumnus harus bisa berjuang untuk menggapai kesempatan ini," tandasnya.(*)

Penulis: Manik Priyo Prabowo
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved