Lagi, 3 Desa Adat di Sanur Tolak Reklamasi

Lantas dengan begitu, apa jadinya jika Teluk Benoa yang akan direklamasi.

Lagi, 3 Desa Adat di Sanur Tolak Reklamasi
Tribun Bali/ I Made Ardhiangga Ismayana
Aksi tolak reklamasi di tengah laut Tanjung Benoa, Badung, Bali, Minggu (28/2/2016). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Tiga desa adat di kawasan Sanur dengan tegas menolak reklamasi Teluk Benoa seluas 700 hektare.

Sikap ini dilakukan seusai melakukan paruman (rapat) adat oleh tiga desa adat, yakni Desa Adat ‎Pakraman Intaran, Desa Adat Sanur, dan Desa Adat Penyaringan‎.

Dan ketiganya jelas menolak reklamasi yang dianggap bisa membawa dampak langsung pada masyarakat Sanur.

Nyoman Sarji, Klian Adat Banjar Sindhu Kelod‎ menyatakan, dengan adanya paruman itu kemudian disepakati bahwa secara tegas menolak reklamasi Teluk Benoa.

Itu dikarenakan masyarakat berpikir di pesisir, apalagi warga Sanur sudah pernah merasakan langsung dampak dari adanya reklamasi.

Yakni rekalamsi Pulau Serangan.

Lantas dengan begitu, apa jadinya jika Teluk Benoa yang akan direklamasi.

"Kemarin soal Serangan sudah kena. Dapat bantuan Pemerintah Jepang. Apalagi jika harus Benoa, pastinya akan berdampak besar. Maka itu, kami menolak," ujarnya, Sabtu (5/3/2016).

Menurut dia, apa yang akan dilakukan ivestor seharusnya diserahkan saja pada masyarakat.

Kalau klaimnya memang berkaitan dengan menjaga alam.

Sebab, pada dasarnya secara naluriah, untuk menjaga Bali, masyarakat Bali sudah tertanam di benaknya semenjak baru dilahirkan.

"Serahkan saja pada masyarakat. Jangan mengklaim ini, reklamasi itu, menjaga alam Bali. Masyarakat Bali bisa menjaga alamnya," pungkasnya. (*).

Penulis: I Made Ardhiangga Ismayana
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved