PPSI Gelar Diskusi Kritisi Pemalsuan Lukisan di Indonesia

Pada event ini juga dihadirkan 9 lukisan repro karya maestro yakni Hendra Gunawan dan S. Sudjojono

PPSI Gelar Diskusi Kritisi Pemalsuan Lukisan di Indonesia
Tribun Bali / Cisilia Agustina Siahaan
Seorang pengunjung mengamati satu di antara 9 lukisan repro karya maestro yakni Hendra Gunawan dan S. Sudjojono, Sabtu (5/3/2016). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Masih menjadi rangkaian peluncuran buku Jejak Lukisan Palsu di Indonesia, Perkumpulan Pencinta Senirupa Indonesia (PPSI) kembali menyelenggarakan diskusi dan pameran seni.

Kali ini mengambil tajuk “Lukisan Palsu dan Bias Sejarah Seni Rupa Indonesia” pada Sabtu (5/3/2016) pukul 09.30 Wita di Gedung Citta Kelangen, Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.

Diskusi ini menjadi kali kedua, setelah sebelumnya diadakan di Rumah Topeng Setiadharma, Mas Ubud, Gianyar beberapa waktu yang lalu mengkritisi maraknya pemalsuan karya seni, khususnya lukisan di Indonesia.

“Kalau tidak ada sejarah atau pencatat sejarah yang bisa menjernihkan soal lukisan palsu, maka akan ada 'sejarah palsu', istilah yang digunakan oleh kritikus Bambang Bujono belum lama ini.

Apalagi bahan baku sejarah palsu tampaknya sudah makin banyak di sekitar kita sekarang ini: lukisan palsu, papar Hendro Wiyanto, pengamat seni rupa.

Pada event ini juga dihadirkan 9 lukisan repro karya maestro yakni Hendra Gunawan dan S. Sudjojono yang dipamerkan di sisi luar ruang diskusi hari itu.

Pameran tersebut dikatakan sekaligus sebagai acuan publik untuk dapat mengamati secara langsung tentang fenomena lukisan palsu berikut modusnya.

Terbitnya buku “Hendra Gunawan Sang Pelukis Rakyat” dua tahun lalu memancing polemik dan ulasan di berbagai media, terutama mengenai adanya dugaan sekitar 200 reproduksi lukisan Hendra  yang terangkum dalam buku tersebut bukan merupakan karya yang otentik atau lukisan palsu.

Lukisan-lukisan dalam buku tersebut memiliki kemiripan dengan koleksi para kolektor.

Jusuf Wanandi, sebagai salah satu kolektor dari karya-karya milik Hendra Gunawan, menyatakan keprihatinannya bahwa para pedagang lukisan palsu begitu mudahnya menjalankan aksi dan berhasil menipu sejumlah pencinta lukisan.

Sesuai dengan tujuan awalnya, satu di antara kegiatan seni budaya ini merupakan media sosialisasi dan edukasi, khususnya perihal keberadaan lukisan palsu yang belakangan mengemuka dalam dunia seni rupa Indonesia.

Diskusi ini berangkat dari upaya investigasi para pakar seni rupa yang kemudian dituangkan menjadi buku berjudul “Jejak Lukisan Palsu di Indonesia” (2014).

Para penulisnya antara lain : Agus Dermawan T., Prof. Dr. Agus Sardjono SH, MH, Aminudin TH Siregar, Amir Sidharta, Asiong, Bambang Bujono, Mikke Susanto, Rusharyanto, SH, Syakieb Sungkar, Wicaksono Adi. (*)

Penulis: Cisilia Agustina. S
Editor: Eviera Paramita Sandi
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved