Cakrawayu Minta Krama Yang Berselfie Ditindak Tegas!

PHDI tidak mengeluarkan imbauan apa-apa yang hanya bersifat normatif

Cakrawayu Minta Krama Yang Berselfie Ditindak Tegas!
Facebook
Tingkah sejumlah umat Hindu di Bali berfoto selfie di jalan raya pada saat Hari Raya Nyepi lalu meng-upload ke media sosial, Rabu (9/3/2016). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR –Ketua Puskor Hindunesia, Ida Bagus Susena Wanasara, mengkritisi tingkah laku krama Hindu Bali yang melaksanakan kegiatan seperti berfoto ria dan bersenang-senang di media sosial pada saat Hari Suci Nyepi.

Maka dari itu Puskor Hindunesia membuat tiga poin desakan terhadap pihak-pihak terkait.

Pertama, krama Hindu Bali sendiri harus introspeksi.

Kedua mendesak PHDI, MUDP (Majelis Utama Desa Pekraman), dan FKUB (Forum Kerukunan Umat Beragama) karena dianggap gagal mengemban tugas.

(Kok Ada Orang Pada Gembiranya Meng-upload Foto, Itu Seperti Mekecuh Arep Menek!)

PHDI tidak mengeluarkan imbauan apa-apa yang hanya bersifat normatif, MUDP tidak bisa menekan adat untuk tegas, dan FKUB harusnya lebih menekankan toleransi dua arah.

Ketiga pihak kepolisian sebagai petugas hukum menindak tegas pelaku pelecehan.

(Marak Upload Foto Selfie Saat Nyepi, Ini Komentar Pedas Netizen)

“PHDI harus menjurus ke teknikal, apa yang boleh dan apa yang tidak boleh. MUDP juga harus membuat sanksi tegas seperti perarem dan disosialisasikan. Jadi kita harapkan benar-benar masyarakat menghargai Nyepi. Jangan sampai cuma rutinitas tahunan, ada ogoh-ogoh, penutupan bandara, tapi implementasinya tidak tegas,” kata dosen UNHI ini.

Ormas keagamaan Cakrawayu juga meminta pihak terkait memberikan sanksi tegas terhadap warga Bali yang berfoto ke jalan karena dianggap melecehkan Hari Raya Nyepi.

"Itu tidak boleh terjadi, harus ada sanksi yang tegas dari desa pakraman," tegas Ketua Cakrawayu, Putu Dana, kemarin.

Ia juga mengatakan MUDP, hingga jajaran di bawahnya, MMDP (Majelis Madya Desa Pakraman) dan MADP (Majelis Alit Desa Pakraman) harus bertindak tegas untuk menegakkan dan mensosialisasikan awig-awig di desa pakraman.

"Siapa pun itu baik krama Hindu Bali dan luar Bali harus tunduk pada sanksi. Tidak ada yang boleh melanggar," tambahnya.(*)

Penulis: A.A. Gde Putu Wahyura
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved