Melarat di Pulau Surga

Tidak Bisa Melihat dan Sulit Berjalan, Pria Malang Ini Tinggal Seorang Diri di Gubuk Bambu

Tidak ada jemari di kedua kakinya, begitupun pergelangan kedua tangannya yang mengkerut dan jemarinya tidak tumbuh dengan normal.

Tidak Bisa Melihat dan Sulit Berjalan, Pria Malang Ini Tinggal Seorang Diri di Gubuk Bambu
Tribun Bali/Lugas Wicaksono
Ketut Marsah (37) duduk membisu di depan gubuk sederhananya di Banjar Pinggian, Dusun Munduk Waban, Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng, Kamis (14/4/2016) siang. 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Ketut Marsah (37) duduk membisu di depan gubuk sederhananya di Banjar Pinggian, Dusun Munduk Waban, Desa Pedawa, Kecamatan Banjar, Buleleng, Bali, Kamis (14/4/2016) siang.

Di sampingnya terletak dua tongkat kayu yang biasa dipakainya sebagai alat bantu untuk berjalan-jalan tidak jauh dari rumahnya, itupun masih harus ada yang menuntunnya.

Tidak ada jemari di kedua kakinya, begitupun pergelangan kedua tangannya yang mengkerut dan jemarinya tidak tumbuh dengan normal.

Di mata kirinya terdapat benjolan yang cukup besar. Rahangnya yang berbentuk tidak sempurna membuatnya kesulitan berbicara.

Sudah sekitar 10 tahun pria ini tidak mampu melihat.

Kondisi ini membuatnya tidak dapat beraktivitas.

Kesibukannya merawat sapi milik orang lain sudah tidak dapat dilakukannya lagi setelah tak lagi dapat melihat.

Kini anak kelima dari enam bersaudara ini harus dibantu kedua orangtuanya, Wayan Waneng (70) dan Ketut Tuduh (65) serta kakak-kakaknya untuk beraktivitas sehari-hari.

“Untuk mandi atau makan tidak bisa sendiri, setiap hari dibantu bapak atau ibu, kadang juga saya, jalan saja tidak bisa ditinggal sendiri,” ujar kakak pertama, Wayan Natawan (49).

Kondisi fisik Marsah yang tidak normal ini menurutnya sudah dialami adiknya itu sejak dari lahir.

Ia mengaku tidak tahu jenis penyakitnya karena tidak pernah diperiksa secara medis.

Sehari-hari pria ini tinggal di gubuk sederhananya seorang diri.

Gubuk berukuran sekitar 4x3 meter itu keseluruhan terbuat dari bambu dengan beratapkan seng.

Dari jalan desa, harus melintasi jalan setapak dari beton sejauh satu kilometer.

Di dalam gubuk yang ditempatinya hanya terdapat alas untuk tidur yang tampak berserakan.

Bau pengap tercium dari dalamnya.

Natawan mengatakan, adiknya itu lebih memilih tinggal seorang diri di gubuk daripada harus menumpang di rumah orangtua maupun saudara-saudaranya yang tidak jauh dari gubuknya.

“Kami sebenarnya kasihan dia tinggal sendiri, tapi dia tidak mau tinggal sama bapak dan ibuk satu rumah, lebih suka tinggal sendiri, kalau tanah yang ditempatinya tanah sendiri,” ucapnya.

Setiap harinya keluarga ini hidup serba kekurangan.

Natawan sendiri sehari-hari hanya bekerja sebagai buruh tani dengan penghasilan yang tidak menentu.

Begitupula ayahnya, Waneng yang juga hanya bekerja sebagai buruh tani.

Penghasilan yang tidak menentu ini diaturnya agar dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk untuk merawat anaknya, Marsah. (*)

Penulis: Lugas Wicaksono
Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved