Breaking News:

Sudah Setahun Digusur Korban Penggusuran Danau Tamblingan Masih Tinggal Seadanya di Gubuk

Setahun lalu tepatnya 25 April 2015 mereka digusur sekelompok orang yang mengatasnamakan Catur Desa Adat Dalem Tamblingan.

Tribun Bali/Lugas Wicaksono
Komang Pariadi bercengkerama dengan kedua cucu Sarimin di gubuknya Banjar Dinas Tamblingan, Desa Munduk, Kecamatan Banjar, Buleleng, Senin (11/4/2016). 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Sebanyak 22 kepala keluarga (KK) anggota Kelompok Nelayan Astiti Amerta yang menjadi korban penggusuran paksa di pinggir Danau Tamblingan, Desa Munduk, Kecamatan Banjar, Buleleng, Bali sampai kini masih tinggal di pengungsian.

Mereka kini tinggal dengan mendirikan gubuk atau rumah semi permanen di atas tanah milik orang lain di Desa Munduk.

Setahun lalu tepatnya 25 April 2015 mereka digusur sekelompok orang yang mengatasnamakan Catur Desa Adat Dalem Tamblingan.

(Bupati Buleleng Soal Jual Tanah Pribadi Untuk Korban Penggusuran: ‘Emang Ini Tanah Kakeknya?’)

Rumah semi permanen 22 KK korban di pinggir danau itu dirobohkan secara paksa dan dibakar.

Alasannya karena tanah enclave BKSDA tersebut diklaim sebagai tanah pelabapura yang harus disucikan dan bebas dari pemukiman.

“Kelompok kami bulan April setahun lalu mengalami penggusuran paksa, rumah kami dibakar, binatang peliharaan kami dibantai, tempat memelihara ikan kami ditenggelamkan, fasiltas tangkap ikan kami seperti jaring dihancurkan dan dipotong-potong,” ujar seorang korban penggusuran, Ketut Mangku Saputra.

Ia mengaku ketika itu sebetulnya mereka tidak pernah menolak untuk direlokasi.

Namun ketika itu warga korban penggusran masih menunggu kepastian dari Pemkab Buleleng sebelum direlokasi.

Namun ketika masih belum ada solusi ke mana mereka harus tinggal setelah direlokasi, rumah-rumah mereka sudah dirobohkan.

“Padahal kami tidak pernah menolak untuk direlokasi dari tanah enclave Danau Tamblingan tersebut. Tapi kami masih menunggu kepastian dari pemerintah dan pada saat itu rumah kami dibakar di mana sampai sekarang kami mengungsi di tempat-tempat tinggal tetangga.Sudah setahun lalu kejadian tersebut dan kami masih tinggal di pengungsian karena belum ada kepastian dari pemerintah.Kami terus melakukan pencarian keadilan yang sampai saat ini belum kami dapatkan,” tuturnya.

Saputra berharap agar Pemkab Buleleng maupun Pemprov Bali memberikan lahan untuk tempat tinggal warga korban penggusuran.

Tidak itu saja, ia juga meminta jaminan dari pemerintah agar korban penggusuran diberikan hak untuk tetap beraktivitas di danau sebagai nelayan maupun sebagai pemandu wisata.

“Kami mohon agar pencaharian kami sebagai nelayan untuk tetap melakukan aktivitas di danau baik menangkap ikan maupun memberikan pelayanan-pelayan pengunjung yang datang ke Danau Tamblingan karena itulah yang dapat kami lakukan untuk menghidupi keluarga dan menyekolahkan anak-anak kami,” ucapnya. (*)

Penulis: Lugas Wicaksono
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved