Gubernur Bali Pamer Teknologi Pengolahan Kotoran Sapi di Depan Wakil Presiden

Dengan teknik booting, biogas non-sulfur tersebut juga bisa ditampung ke dalam tabung ukuran 12 kg sehingga efektif untuk dipindah-pindah.

Gubernur Bali Pamer Teknologi Pengolahan Kotoran Sapi di Depan Wakil Presiden
Humas Pemprov Bali
Gubernur Bali Made Mangku Pastika saat memaparkan tentang teknologi pengolahan kotoran sapi di Tabanan, Bali, Jumat (6/5/2016). 

TRIBUN-BALI.com, TABANAN - Gubernur Bali Made Mangku Pastika memaparkan keunggulan perangkat Kantung Penampung Biogas dan Desulfurizer yang berfungsi menghilangkan kandungan sulfur (belerang) pada biogas hasil olahan kotoran sapi kepada Wakil Presiden Jusuf Kalla saat melaksanakan kunjungan kerja ke Simantri 355 Poktan Giri Lestari Desa Bangli, Baturiti, Tabanan, Bali, Jumat (6/5/2016).

Menurut Gubernur Pastika, hilangnya kandungan sulfur pada biogas akan mengurangi korosi pada peralatan yang memanfaatkan biogas tersebut.

Hasil temuan Prof Cokorda Tirta Nindia, ketua riset Fakultas Teknik Mesin Universitas Udayana (Unud) tersebut dijelaskan Pastika juga bisa disambungkan langsung dengan genset berkapasitas 1.000 Kwh karena sudah merupakan gas murni dan zero emisi.

“Setelah diolah dengan peralatan ini, kandungan sulfur pada biogas yang sudah dihasilkan Simantri akan hilang. Sehingga kendala selama ini yang dialami, yakni peralatan cepat rusak akibat korosi bisa ditangani, jadi kompor, lampu dan lainnya akan lebih awet. Dan ini juga bisa disambungkan langsung ke dalam genset, ini juga nol emisi,” kata Pastika.

Menurut Gubernur Pastika, dengan teknik booting, biogas non-sulfur tersebut juga bisa ditampung ke dalam tabung ukuran 12 kg sehingga efektif untuk dipindah-pindah.

“Kalau sudah ditampung ke dalam tabung, saya rasa ini akan efektif, karena nantinya tinggal dibawa ke rumah masing-masing untuk dimanfaatkan untuk memasak, sehingga tidak perlu membeli gas lagi,” imbuh Pastika.

Mengingat banyaknya manfaat yang dihasilkan, peralatan tersebut saat ini sudah diujicoba ke beberapa Simantri yang tersebar di Bali, untuk selanjutnya akan dikembangkan melengkapi masing-masing unit Simantri.

Keterangan Pastika juga ditambahkan Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan Provinsi Bali, IB Wisnu Ardhana, yang memaparkan Simantri secara umum sebagai integrasi kegiatan sektor pertanian dengan sektor pendukungnya, baik secara vertikal maupun horizontal sesuai potensi masing-masing wilayah dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumberdaya lokal yang ada.

Kegiatan integrasi yang dilaksanakan juga berorientasi pada usaha pertanian tanpa limbah (zero waste) dan menghasilkan 4 F (food, feed, fertilizer dan fuel).

Kegiatan utama yang dilaksanakan yakni mengintegrasikan usaha budidaya tanaman dan ternak, dimana limbah tanaman diolah untuk pakan ternak dan cadangan pakan pada musim kemarau dan limbah ternak (kotoran & urine) diolah menjadi bio gas, bio urine, pupuk organik dan bio pestisida.

Dengan produk-produk tersebut yang bisa dijual ke sektor pertanian, menurutnya, diharapkan dapat menghasilkan pendapatan tambahan bagi para petani, yang apabila sudah berhasil memproduksi dalam jumlah besar akan bisa mensejahterakan para anggotanya.

Wakil Presiden, Jusuf Kalla, mengaku sangat bangga dan mengapresiasi program yang sudah dilaksanakan Pemprov Bali karena sudah mampu meningkakan kesejahteraan masyarakat di bidang pertanian.

Sebagai bentuk dukungan terhadap program Simantri yang saat ini sudah berjalan sekitar 540 unit, Jusuf Kalla berjanji akan segera menambah realisasi program tersebut bagi masyarakat Bali.

“Program ini sangat bagus bagi masyarakat, oleh karena itu, Simantri yang saat ini menurut Gubernur Bali sudah terlaksana di Bali sebanyak 540 unit, akan saya tambah lagi 500 unit melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI,” ujar Jusuf kalla. (*)

Editor: Kander Turnip
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved