Ketut Yudara: Padi Tabanan Diolah di Banyuwangi, Kemudian Dijual di Bali!

Petani jual padi pada tengkulak

Ketut Yudara: Padi Tabanan Diolah di Banyuwangi, Kemudian Dijual di Bali!
Tribun Bali/I Made Argawa
Seorang petani menebar pupuk di sawah yang baru ditumbuhi padi di Subak Gubug II, Desa Gubug Tabanan. Kecamatan yang paling banyak mendapatkan alokasi pupuk urea bersubsidi pada 2016 di Tabanan adalah Penebel yang mencapai 1.447,95 ton 

TRIBUN-BALI.COM, TABANAN- Terkait dengan belum jelasnya pembelian gabah dari program beras sehat oleh Perpadi, beberapa krama di Subak Bulung Daya, Desa Antap sudah menawarkan padinya yang akan panen ke penebas (tengkulak yang langsung memanen padi).

Bahkan di antaranya sudah diberikan uang muka pembelian padi.

"Mau gimana lagi, masak kami harus menunggu yang tidak jelas, sementara padi harus segera di panen, jika lama kualitas padi akan menurun," kata Pekaseh Subak Bulung Daya, I Wayan Targa, (16/5/2016) di ruang rapat DPRD Tabanan.

Penjualan padi dari program beras sehat dibenarkan oleh krama Subak Bulung Daya, I Ketut Yudara yang juga merupakan penebas padi.

Dia mengatakan telah membeli beras sehat beberapa tahun terakhir, tahun 2015 lalu dirinya sempat membeli beras sehat di Desa Tangguntiti.

"Beras sehat sangat diminati, saya beli dengan harga Rp 4.500 di petani," ujarnya.

Dia mengatakan petani menjual padi dari program beras sehat karena tidak ada respon dari Perpadi ketika menjelang panen.

Makanya petani lebih memilih menjual ke penebas karena lebih pasti laku.

Dia menyebutkan jika padi beras sehat dibawa ke Banyuwangi untuk diproses dan setelah jadi beras dijual kembali ke Bali.

"Setelah jadi beras dijual lagi ke Bali dengan label berbeda, di Banyuwangi cuman proses aja, laku keras karena berasnya berbeda dari beras yang masih menggunakan pupuk kimia," terangnya. (*)

Penulis: I Made Argawa
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved