Baru Dua Bulan, Arifin Tidak Menyangka Kontrakannya di Tanjung Bungkak Kini Rata Dengan Tanah

Isak tangis terlihat di mata sejumlah pemilik rumah yang dibongkar.

Baru Dua Bulan, Arifin Tidak Menyangka Kontrakannya di Tanjung Bungkak Kini Rata Dengan Tanah
Tribun Bali / I Wayan Erwin Widyaswara
Sebuah alat berat menghancurkan perumahan yang ada di sebelah selatan Pura Sanghyang, Desa Tanjuk Bungkak, Denpasar Timur, Selasa (17/5/2016). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Dalam sekejap, perumahan kumuh yang berada di Kawasan Banjar Sebudi, Desa Adat Tanjung Bungkak, Denpasar Timur, tepatnya di sebelah selatan Pura Sanghyang itu rata dengan tanah.

Sebuah alat berat menghancurkan satu persatu rumah yang menempati kawasan bantaran sungai yang ditempati oleh pemulung dan pedagang sate itu.

Puluhan anggota dari tim gabungan yang terdiri dari Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Denpasar, pihak kepolisian, dan desa, Lurah ikut menyaksikan penggusuran kawasan tersebut.

"Kami hanya menjalankan tugas sebagai tim yustisi. Itu semua berawal dari laporan masyarakat kepada Camat. Camat meminta tolong kepada kami untuk dilakukan pembongkaran. Yang jelas, kami sudah sesuai dengan prosedur dalam membongkar," kata Kepala Satpol PP Kota Denpasar, Ida Bagus Alit Wiradana kepada Tribun Bali.

Isak tangis terlihat di mata sejumlah pemilik rumah yang dibongkar.

Mereka sangat tidak menyangka bahwa lahan tersebut tidak boleh ditempati.

Arifin, satu di antara pemilik kontrakan di rumah kumuh itu mengaku baru dua bulan menempati rumah kontrakan itu.

"Saya kontraknya setahun. Sudah bayar 5 juta. Tapi saya baru menempati dua bulan," kata pria asal Madura ini.

Camat Denpasar Timur, Dewa Puspawan menjelaskan, pembongkaran itu dalam rangka penataan sungai di Denpasar.

Sebelum mengimbau Satpol PP untuk membongkar, pihaknya sudah memverifikasi status lahan tersebut ke Dinas Pendapatan dan di Badan Pertahanan Negara (BPN).

"Ternyata setelah kami cek, tidak ada yang memiliki. Saya minta sertifikat, juga tidak ada dari yang mengaku mempunyai tanah itu. Ternyata itu fasos (fasilitas sosial)," kata Puspawan kepada Tribun Bali.(*)

Penulis: I Wayan Erwin Widyaswara
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved