Cerita WNI di Perbatasan Yang Setiap Malam Melihat Buaya di Kolong Rumahnya

"Kami sudah terbiasa hidup di antara buaya. Kalau malam biasa mereka di bawah kolong rumah,"

Cerita WNI di Perbatasan Yang Setiap Malam Melihat Buaya di Kolong Rumahnya
Dokumentasi pribadi Octavianto
Buaya yang berjemur di pinggiran Sungai Sebuku. Selama pencarian korban, tim Sar sering melihat penampakan buaya sepanjang 2,5 meter sedang berjemur di pinggir sungai Sebuku. 

TRIBUN-BALI.COM - Warga di wilayah perbatasan Indonesia-Malaysia di Kabuaten Nunukan, Kalimantan Utara, yang tinggal di seputar bantaran sungai Sebuku mengaku sudah terbiasa hidup di antara buaya.

Bahkan di antaranya buaya berukuran besar.

Ketua RT 12 Desa Pebeliangan, Kecamatan Sebuku, Muhammad Al Idrus mengatakan, sepanjang Sungai Sebuku memang terkenal sebagai tempat hidup buaya air payau.

"Kami sudah terbiasa hidup di antara buaya. Kalau malam biasa mereka di bawah kolong rumah," ujarnya, Kamis (19/05/2016).

Bahkan sebagian warga tak canggung beraktifitas maupun melakukan kegiatan mencuci dan mandi di sepanjang Sungai Sebuku.

Muhammad Al Idrus mengaku, sepanjang Sungai Sebuku juga tidak ada rambu-rambu yang menandakan kawasan tersebut dihuni buaya.

Meski mereka sering beraktifitas di antara buaya air payau, mereka memiliki keyakinan bahwa tidak sembarang buaya mau memangsa manusia.

“Tidak semudah itu buaya mau memangsa manusia. Pasti ada tanda sebab mengapa buaya memangsa manusia," imbuhnya.

Sepanjang ingatan Muhammad Al Idrus, sudah 3 warga Kecamatan Sebuku yang menjadi korban dimangsa buaya.

Salah satu buaya pemangsa manusia tersebut malah ditangkap warga berkat bantuan seorang pawang pada tahun 2014.

Halaman
12
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved