Para Pria Itu Saling Pukul di Acara HUT Kota Amlapura!

2 orang pria saling berhadapan untuk bertanding, membawa tongkat dari rotan dengan panjang 1,5 meter hingga 2 meter yang digunakan untuk memukul.

Para Pria Itu Saling Pukul di Acara HUT Kota Amlapura!
istimewa
Puluhan pria saling memukul dam Tarian Gebug Ende di Acara HUT Kota Amlapura di Karangasem, Bali, Rabu (22/6/2016).

TRIBUN-BALI.com, AMLAPURA - Salah satu budaya yang merupakan warisan dari nenek moyang adalah Gebug Ende di Karangasem tepatnya di Desa Seraya, sampai sekarang masih dijaga lestari, dipentaskan secara kolosal untuk memeriahkan serangkaian HUT Kota Amlapura ke-376.

Fragmentari kolosal itu didukung sebanyak 200 orang penari yang dipentaskan putra dan putri Karangasem setelah Pemerintah Kabupaten Karangasem menggelar Apel Peringatan Puncak Hari Ulang Tahun Kota Amlapura ke-376 yang dikonsentrasikan di Lapangan Tanah Aron Amlapura, Karangasem, Bali, diikuti seluruh pimpinan dan elemen masyarakat Karangasem, Rabu (22/6/2016).

Pementasan Fragmentasi Kolosal perang tanding dalam tradisi Gebug Ende tersebut, berhubungan dengan tradisi dan kepercayaan warga yang berhubungan juga dengan ritual keagamaan.

Dan dipentaskan saat musim kemarau tiba dengan tujuan memohon turunnya hujan.

Diceritakan, dahulu kala, Pemerintahan Kerajaan Karangasem, tepatnya wilayah bagian timur, musim kemarau panjang dan masyarakatnya terserang wabah penyakit ganas, untuk menanggulangi musim kemarau panjang dan memerangi wabah penyakit itu, Raja Karangasem menggelar ritual mohon turun hujan yang disertai atraksi tarian Gebug Ende.

Tarian adu ketangkasan Gebug Ende ini, tidak main-main dan perlu keahlian khusus.

Dalam tarian itu 2 orang pria saling berhadapan untuk bertanding, membawa tongkat dari rotan dengan panjang 1,5 meter hingga 2 meter yang digunakan untuk memukul/menggebug lawan.

Dan di salah satu tangannya, biasanya yang sebelah kiri, membawa tameng (Ende) berbentuk bundar yang digunakan menangkis serangan lawan.

Dengan terkenalnya tarian Gebug Ende, dikatakan di desa Seraya ada kisah yang melegenda mengenai Soroh Tegak Petang Dasa atau 40 orang pendekar yang memiliki kedigjayaan yang direkrut menjadi prajurit dan diajak bersama oleh raja Karangasem untuk menyerang kerajaan Lombok Barat dan berhasil meraih kemenangan.

Maka tradisi Gebug Ende mengingatkan peristiwa yang pernah terjadi di waktu lampau. (*)

Editor: Kander Turnip
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved