Pesta Kesenian Bali
Kisah Raja Jaya Pangus dan Putri Kang Ching Wie Ditarikan di PKB
Dalam perjalanan menuju tempat bersemedi, Raja Jaya Pangus bertemu dengan Dewi Danu dan mereka saling jatuh cinta.
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Pentas seni di ajang Pesta Kesenian Bali (PKB) 2016, Selasa (28/6/2016) dimeriahkan dengan penampilan Tari Gambuh Anyar yang di pentaskan oleh guru beserta siswa-sisiwi SMKN 4 Bangli yang bertempat di Kalangan Angsoka, Taman Budaya, Art Centre, Denpasar.
Pertunjukan yang melibatkan sekitar 50 orang penari dan penabuh tersebut menceritakan tentang Kerajaan Balingkang yang dipimpin oleh Raja Jaya Pangus dengan permaisurinya yang merupakan seorang putri dari China bernama Kang Ching Wie.
Raja Jaya Pangus dan Putri Kang Ching Wie adalah pasangan yang serasi dan sangat dikagumi oleh rakyatnya, namun sayang lama hidup bersama mereka belum memiliki keturunan.
Oleh karena itu, Raja Jaya Pangus berkeinginan melakukan tapa brata untuk memohon anak di wilayah Batur.
Dalam perjalanan menuju tempat bersemedi, Raja Jaya Pangus bertemu dengan Dewi Danu dan mereka saling jatuh cinta.
Saat mereka sedang memadu cinta datanglah Dewi Kang Ching Wie dan marah.
Dewi Danu pun merasa dibohongi oleh Jaya Pangus dan marahlah Dewi Danu.
Ketika keadaan menjadi semakin kalut, lalu turunlah Dewi Batur dan mengutuk Jaya Pangus dan Kang Ching Wie menjadi Arca Barong Landung .
Di samping penampilan dari duta seni Kabupaten Bangli, juga ditampilkan pada waktu bersamaan di tempat berbeda yaitu di Kalangan Ayodhya penampilan dari Yayasan Seni Puspa Kirana Banjar Tangkup Desa Kedisan, Kecamatan Tegallalang, Gianyar yang menampilkan lima tarian dengan iringan gender.
Dalam kesempatan tersebut ditarikan tarian yaitu: Tari Taman Sari yang merupakan tarian penyambutan yang ditarikan sekelompok penari putri.
Tarian ini menggambarkan sejumlah wanita denagn penuh rasa hormat menyongsong kedatangan para tamu.
Tari Trunajaya yang menggambarkan seorang pemuda yang menginjak dewasa dengan ekspresi yang kuat, emosional tinggi, serta ulahnya yang energik untuk menarik hati seorang wanita.
Tari Kelinci yang menggambarkan sekelompok kelinci yang sedang bermain dan mencari makan di suatu taman.Tarian ini ditarikan oleh sekelompok anak dengan riang gembira.
Tari Legong Jobog yang menggambarkan cuplikan dari Kisah Ramayana tentang persaingan dua bersaudara Sugriwa dan Subali yang memperebutkan ajimat dari ayahnya.
Tari Garuda Wisnu yang meggambarkan perjalanan Dewa Wisnu dalam mencari tirta amerta.
Dalam perjalanannya tersebut mendapat bantuan dari burung Garuda.
Tari Garuda Wisnu juga mengisahkan pertemuan Dewa Wisnu dengan Dewi laksmi serta melukiskan kegagahan Hyang Wisnu dalam memainkan senjata andalannya yaitu senjata Cakra.
Kedua penampilan seni tersebut mendapat antusias yang luar biasa dari pengungjung PKB pada pagi hari ini. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/pertunjukan-tari-di-art-centre_20160628_145835.jpg)