Ini Dampaknya Bila Bayi Terlahir Tanpa Anus Menurut dr I Gusti Lanang

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Wilayah Bali, dr I Gusti Lanang Sidiartha, SpA (K) menjelaskan bahwa bayi yang terlahir tanpa...

Ini Dampaknya Bila Bayi Terlahir Tanpa Anus Menurut dr I Gusti Lanang
Shutterstock
Ilustrasi bayi. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Wilayah Bali, dr I Gusti Lanang Sidiartha, SpA (K) menjelaskan bahwa bayi yang terlahir tanpa memiliki lubang anus adalah akibat kelainan bawaan kompleks.

Istilah medisnya atresia ani.

Ini merupakan salah-satu jenis cacat atau kelainan bawaan bayi yang menyebabkan kotoran menjadi tersendat di dalam tubuh bayi, karena si bayi  tidak memiliki lubang anus yang berfungsi mengeluarkan kotoran tubuh.

“Bisa dibayangkan kalau kotorannya diam di dalam tubuh dan tidak bisa keluar.

Perut bayi akan mengembung serta seluruh organ tubuh pada bayi akan terkontaminasi jika tidak segera membuat lubang sementara pada perut bayi,” jelas Lanang, Sabtu (2/7/2016).

Tindakan cepat untuk bayi yang mengalami cacat tersebut, imbuh Lanang, bisa dengan cara membuat lubang kotoran dari perut untuk sementara waktu.

Kemudian, tindakan bedah dilakukan dengan membuat lubang anus.

Sehingga bayi tidak perlu menggunakan selang kotoran pada perut untuk membuang kotorannya.

Terbentuknya atresia ani, menurut Lanang, terjadi saat di dalam masa kandungan.

Atresia ani  itu terjadi dalam masa pembentukan janin pada usia 3 bulan kandungan. Penyebabnya sangat kompleks, karena termasuk kelainan bawaan,” ujarnya.

Jika berkaca pada kasus meninggalnya bayi anaknya Ni Wayan Sari yang mengeluarkan darah pada hidung dan mulutnya, Lanang menduga hal itu terjadi karena sang bayi sudah masuk dalam fase akhir.

Kondisinya semakin memburuk.

Sehingga terjadi gangguan pada pembuluh darah bayi yang menyebabkan kematian.

Kondisi pada fase akhir bukan hanya terjadi pada penderita atresia ani saja, tetapi seluruh pasien yang mengalami fase tersebut.

Lanang mengimbau masyarakat untuk lebih mengintensifkan memeriksakan kandungannya ke bidan ataupun dokter di fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) terdekat agar cacat atau kelainan bawaan seperti atresia ani terdeteksi secara dini. (*)

Penulis: I Dewa Made Satya Parama
Editor: Irma Yudistirani
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved