Bali Perlu Lembaga Khusus Tangani Energi Terbarukan, Unud Harus Berperan

Energi baru terbarukan ini sudah sangat diperlukan oleh Bali. Karena itu saya rasa perlu untuk dibuatkan sebuah wadah untuk menangani hal tersebut.

Bali Perlu Lembaga Khusus Tangani Energi Terbarukan, Unud Harus Berperan
Humas Pemprov Bali
Gubernur Bali Made Mangku Pastika dan Rektor Unud Ketut Suastika bertemu membahas lembaga khusus yang menangani energi terbarukan, di rumah dinas Gubernur, di Denpasar, Bali, Selasa (5/7/2016). 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Dipilihnya Bali sebagai pilot project center of excellence Energi Baru dan Terbarukan (EBT), disikapi serius Gubernur Bali Made Mangku Pastika yang mengisyaratkan pembentukan badan atau dinas sebagai wadah yang akan menangani hal tersebut secara khusus dalam waktu dekat.

Demikian disampaikannya saat menerima audiensi Rektor Universitas Udayana (Unud) Prof DR dr Ketut Suastika dan rombongan di rumah jabatan Gubernur Bali di Denpasar, Selasa (5/7/2016).

“Energi baru terbarukan ini sudah sangat diperlukan oleh Bali. Oleh karena itu saya rasa perlu untuk dibuatkan sebuah wadah untuk menangani hal tersebut. Kalau dimasukkan ke Dinas PU, saya rasa PU sudah terlalu banyak urusannya. Mereka cukup menangani jalan dan irigasi saja,” jelas Pastika yang, menurutnya, jika sudah di dalam sebuah wadah akan mempermudah pengelolaanya, khususnya terhadap siapa saja instansi yang ingin berkontribusi dalam mewujudkan Bali sebagai center of excellence EBT.

Terkait dengan hal tersebut, Pastika juga mengharapkan agar Universitas Udayana mengambil peran penting dalam pengembangan EBT tersebut.

“Unud itu hendaknya juga harus bisa menjadi center of excellence, khususnya bagi Bali. Minimal sudah menggunakan energi terbarukan tersebut di gedung-gedung Unud,” imbuh Pastika yang sangat menginginkan ke depannya dibuatkan sebuah peraturan daerah (Perda) yang mengatur setiap bangunan publik agar menggunakan sekian persen dari EBT.

Lebih lanjut dijelaskan Pastika Kementerian ESDM sudah meninjau lokasi di Pekutatan, Jembrana yang nantinya lokasi tersebut tidak hanya akan mengembangkan energi terbarukan dari sampah dan energi surya, namun juga dari arus laut dan juga angin.

“Nanti di sana itu akan kumpulkan orang-orang yang akan belajar dan mengembangkan energi terbarukan dan Unud saya rasa bisa juga ikut di dalamnya, apalagi itu anggarannya sangat besar. Jadi saya pikir pemerintah pusat itu sudah sangat concern dengan Bali untuk energi baru terbarukan tersebut,” tegas Pastika.

Ketut Suastika yang hadir bersama jajarannya menyampaikan agar pengembangan EBT tersebut tidak salah sasaran seperti yang terjadi di Nusa Penida, di mana pembangkit listrik tenaga angin yang saat ini mangkrak akibat dari kurang kuatnya angin untuk menjalankan alat tersebut.

Menurutnya, perlu dilakukan penelitian terlebih dahulu terhadap lokasi-lokasi yang akan dibangun sebagai sumber EBT.

“Yang saat ini paling penting dan mendesak adalah sampah yang mencapai 1.500 ton per hari,” ujarnya.

Selain persoalan EBT, dalam kesempatan tersebut, Suastika yang hadir berama jajarannya juga menawarkan solusi terhadap permasalahan-permasalahan yang dihadapi oleh Pemprov Bali, seperti keberadaan LPD yang merupakan lembaga adat desa pakraman, namun di dalamnya mengatur tentang keuangan, seperti tabungan dan kredit.

Sehingga, menurutnya, LPD layak untuk disebut sebagai lembaga keuangan yang harus berada di bawah pemerintah, dan diawasi oleh OJK.

Ia mengingatkan hal ini agar nantinya tidak menjadi masalah dan temuan BPK.

Dalam audiensi tersebut, Gubernur Pastika turut didampingi oleh Wakil Gubernur Bali Ketut Sudikerta Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Provinsi Bali Putu Astawa, Kepala Badan Pemberdayaan Masyarakat dan Pemerintahan Desa I Ketut Lihadnyana, serta Kepala Biro Humas Setda Provinsi Bali I Dewa Gede Mahendra Putra. (*)

Editor: Kander Turnip
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved