Breaking News:

Pesta Kesenian Bali

Rwa Bineda, Tari Telek Dwa Praning Gumi Kisahkan Durga Memurti

Tari telek tersebut mengisahkan tentang akibat pemurtian Durga Menjadi Panca Durga, membuat seisi alam Bhur, Bhuah, Swah menjadi "Kadurmanggalan".

Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Tribun Bali/Made Cintya Dewi
Sanggar Tari dan Tabuh Sekar Sandat mempersembahkan Tari Telek Dwa Praning Gumi dalam Pesta Kesenian Bali ke-38 Di Kalangan Angsoka, Taman Budaya, Denpasar, Bali, Kamis (7/7/2016). 

Laporan Wartawan Tribun Bali, Made Cintya Dewi

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Sanggar Tari dan Tabuh Sekar Sandat mempersembahkan Tari Telek "Dwa Praning Gumi" dalam Pesta Kesenian Bali ke-38 Di Kalangan Angsoka, Taman Budaya, Denpasar, Bali, Kamis (7/7/2016).

Tari ini melibatkan lima orang penari telek, 2 orang penari barong dan 1 orang penari topeng bang.

Pembina tari, AA Ngurah Supartama mengatakan ada beberapa lakon yang ditampilkan di pementasan ini.

"Lakon yang ditampilkan ada barong dan rangda, menyimbolkan rwa bineda yang tidak bisa kita pisah dalam kehidupan nyata," ujarnya.

Tari telek tersebut mengisahkan tentang akibat pemurtian Durga Menjadi Panca Durga, membuat seisi alam Bhur, Bhuah, Swah menjadi "Kadurmanggalan".

Siwa dalam Prabhawanya sebagai Sanghyang Jagatkarana menjadi bingung akan dampak dari Panca Durga tersebut. 

Beliau menitahkan Sanghyang Tri Semaya untuk turun ke dunia dalam wujud barong, topeng bang dan telek.

Bhatara Iswara berwujud Barong, Bhatara Brahma berwujud sebagai Topeng Bang dan Bhatara Wisnu berwujud sebagai Topeng Telek. (*)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved