Breaking News:

Ayo Ikut Dialog Sastra dan Kelas Kreatif Bersama Putu Fajar Arcana di Bentara Budaya Bali

Tak hanya dalam dialog, namun buku kumpulan cerpen karya jurnalis senior Kompas satu ini dikemas dalam pertunjukan alihkreasi cerpen oleh teater Bumi.

Penulis: Cisilia Agustina. S
Editor: Kander Turnip
Dok Kompas Muda
Kelas Kreatif Putu Fajar Arcana 

TRIBUN-BALI.COM, GIANYAR - Drupadi, buku ke delapan karya Putu Fajar Arcana yang terbit tahun 2015 (Penerbit Buku Kompas) akan dikupas dalam sebuah dialog sastra di Bentara Budaya Bali (BBB) Jalan Prof Ida Bagus Mantra No 88A, Ketewel, Sukawati, Gianyar, Bali, Senin (11/7/2016) pukul 19.00 Wita.

Berisi dua kisah terpisah, tetapi saling berhubungan di mana pada bagian pertama berisi kisah-kisah tragedi kemanusiaan tahun 1965 berdasarkan riset bertahun, cerminan semangat rekonsiliasi yang diprakarsai negara.

Bagian kedua menyusup pada ajaran karma dan reinkarnasi.

Karma menjadi catatan ‘buku besar negeri langit' yang dipercaya sebagai penyebab dari kehidupan manusia setelah mati dan dilahirkan kembali.

Tak hanya dalam dialog, namun buku kumpulan cerpen karya jurnalis senior Kompas satu ini dikemas dalam pertunjukan alihkreasi cerpen oleh teater Bumi arahan Abu Bakar dan pembacaan karya yang berangkat dari buku Drupadi tersebut.

Termasuk, akan ditampilkan pula tayangan dokumenter.

Selain agenda dialog sastra tentang kumpulan cerpen "Drupadi", pada hari yang sama, Senin (11/7/2016), pukul 15.00-17.00 Wita, Putu Fajar Arcana juga memberikan lokakarya jurnalistik kepada siswa SMA, mahasiswa dan umum dalam program Kelas Kreatif Bentara.

Pada sesi lokakarya kali ini Putu Fajar Arcana akan membandingkan perbedaan pokok antara berita dan cerita (cerpen), Putu Fajar juga akan menyandingkan kesamaan proses dan penggunaan bahasa pada kedua ragam tulisan ini, berikut hal mendasar lainnya menyangkut teknik penulisan feature yang berbeda dengan reportase umumnya atau hard news.

Upaya membandingkan fakta-fiksi dalam cerita serta berita dalam lokakarya jurnalistik kali ini berangkat dari fenomena bahwa antara jurnalis maupun cerpenis sama-sama menggunakan bahasa sebagai sarana menyampaikan informasi, ide atau pesan.

Seorang jurnalis menulis berita sudah seharusnya berdasarkan fakta atau peristiwa nyata.

Halaman
12
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved