Breaking News:

Bocah Tuna Rungu Depresi Berat Diduga Digauli Oknum Guru di Buleleng

Perubahan sikap itu terlihat setelah korban berkunjung ke rumah pelaku yang tak lain adalah tetangganya di Kelurahan Kampun Baru, Singaraja.

Penulis: Lugas Wicaksono | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Net
Ilustrasi 

TRIBUN-BALI.COM, SINGARAJA - Seorang bocah tuna rungu wicara, SDY (12), diduga digauli tetangganya sendiri, SG (40), yang berprofesi sebagai guru kontrak satu SMP Negeri di Buleleng, Bali.

Kini bocah kelas VI SLB C Singaraja ini mengalami depresi berat dan kesulitan saat dimintai keterangan oleh polisi.

Kepala Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Satuan Reserse Kriminal Polres Buleleng, Ipda Putu Edi Sukariawan, mengatakan, dugaan pencabulan ini dilaporkan orangtua korban setelah melihat perubahan perilaku anaknya itu pada Selasa (19/7/2016).

Perubahan sikap itu terlihat setelah korban berkunjung ke rumah pelaku yang tak lain adalah tetangganya di Kelurahan Kampun Baru, Singaraja.

“Pelaku yang merupakan oknum guru melakukan pencabulan terhadap anak di bawah umur yang mana korban mengalami keterbelakangan mental,” kata Edi, Jumat (22/7/2016).

Polisi kini masih kesulitan untuk menyelidiki kasus ini karena korban mengalami depresi berat dan susah untuk memberikan keterangan.

Sampai kini polisi masih belum mengetahui kronologi pencabulan tersebut.

“Sekarang masih melakukan pemeriksaan dan penyelidikan karena korban masih susah memberikan keterangan karena mengalami gangguan mental. Kejadian baru diketahui oleh kedua orangtua korban pada tanggal 19 Juli setelah mendapat keterangan dari sepupu korban yang menyatakan bahwa korban sering diajak masuk ke dalam rumah pelaku,” ujarnya.

“Kami masih belum dapat memastikan sudah berapa kali dicabuli karena korban masih belum dapat memberikan keterangan dengan jelas. Dicabuli seperti apa, kita juga belum dapat pastikan. Masih bolak-balik keterangannya karena korban mengalami keterbelakangan mental. Kami juga masih menunggu hasil visum dari rumah sakit,” tambah dia.

Terlebih tidak ada saksi mata yang mengetahui terjadinya pencabulan tersebut.

Kini polisi berencana mendatangkan psikolog untuk mendampingi korban agar dapat memberikan keterangan dengan jelas.

“Tidak ada saksi yang melihat korban diapa-apakan. Ini  hambatan kami, seperti apa cari pelaku melakukan pencabulan terhadap korban. Makanya kami mendatangkan psikolog dan hari ini semoga korban dapat memberikan keterangan yang jelas,” ucapnya.

Kini polisi masih memeriksa beberapa saksi untuk dimintai keterangan termasuk kedua orangtua korban dan pelaku.

Barang bukti yang sudah diamankan yakni pakaian korban yang dikenakan saat berkunjung ke rumah pelaku. (*)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved