Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Eksekusi Mati Diiringi Hujan dan Petir, Keluarga Terpidana Mati Sudah Pasrah

Hujan deras disertai angin kencang dan dentuman petir bersahut-sahutan di angkasa.

Tayang:
kompas.com
Kondisi Pelabuhan Wijayapura tiba-tiba diguyur hujan deras disertai angin kencang menjelang pelaksanaan eksekusi mati Kamis (28/7/2016) tengah malam. 

TRIBUN-BALI.COM, CILACAP - Hampir semua keluarga terpidana mati dan masing-masing kuasa hukumnya serta perwakilan diplomatik negara asal tidak mampu berbuat banyak.

Mereka pasrah atas eksekusi mati para gembong narkoba itu. 

Eksekusi dilakukan selewat pukul 00.00 WIB.

Jika tak ada perubahan hingga menit terakhir, ada 14 terpidana mati yang akan menghadapi regu tembak di lapangan terbuka tak jauh dari LP Besi Pulau Nusakambangan

Laporan reporter Tribun Jogja dari Dermaga Wijayapura, cuaca menjelang pukul 00.00 WIB, terpatnya pukul 23.45, dilaporkan sangat buruk di seputar Pulau Nusakambangan.

Hujan deras disertai angin kencang dan dentuman petir bersahut-sahutan di angkasa.

Menurut warga yang tinggal dekat Dermaga Wijayapura, situasi ini mirip dengan suasana jelang eksekusi mati gelombang sebelumnya.

Meski tidak sama persis, menjelang waktu eksekusi selalu turun hujan

Sesuai informasi yang beredar, sebagian besar napi warga negara Nigeria akan dimakamkam di Cilacap dan Ambarawa. Lainnya di Jakarta, Surabaya dan Magetan (Jatim), dan dua orang di Bengkalis, Riau. 

Sudah pasrah 

Keluarga napi atau perwakilannya dikumpulkan di Kejaksaan Negeri Cilacap, Kamis (28/7/2016) pagi.

Malamnya petugas keamanan mengizinkan keluarga dekat, staf diplomatik, rohaniwan, masuk ke Pulau Nusakambangan

"Ya, kebanyakan sudah pasrah. Enggak bisa ngomong apa-apa," kata Pratikno (57), salah seorang anggota keluarga terpidana mati yang enggan disebutkan, sekeluar dari Kejaksaan Negeri Cilacap, Kamis sore.

Mereka telah diberikan kepastian oleh jaksa, eksekusi mati dilaksanakan Jumat (29/7/2016) dini hari. 

"Kami pihak keluarga sudah diberitahu kejaksaan," lanjut Pratikno.

Pengacara terpidana mati Zulfikar asal Pakistan, Saut Edward Rajagukguk, juga membenarkan informasi itu.  

"Eksekusi Jumat dini hari ini," ujar Saut Edward.

Pihak keluarga, kata Saut, diperbolehkan untuk menyeberang ke Nusakambangan, namun tidak diperkenankan membawa alat komunikasi.

Sedangkan Saut masih bersikukuh meminta eksekusi untuk Zulfiqar ditunda.

Hal itu disebabkan karena pada Kamis sore dia telah memasukkan permohonan permintaan grasi ke Sekretariat Negara.

"Sesuai dengan peraturan yang ada, seharusnya eksekusi untuk Zulfiqar ditunda dulu," ujar Saud. 

Zulfiqar dihukum mati terkait kepemilikan 300 gram heroin pada 2004.

Dia dipindah dari LP Cipinang ke LP Batu Nusakambangan pada 30 April 2016.

Persiapan akhir eksekusi mati terpantau sangat intens hingga Kamis petang.

Diawali kedatangan 17 ambulans yang diseberangkan ke Pulau Nusakambangan di bawah pengawalan ketat aparat kepolisian. 

Mobil untuk jenazah itu menyeberang melalui dermaga Wijayapura.

Sebanyak 14 ambulans berisi peti jenazah, dan sisanya terlihat kosong.

Kedatangan mobil ambulans ini mengindikasikan eksekusi akan dilakukan beberapa jam kemudian. 

Tanda lainnya adalah masuknya rohaniwan dan keluarga ke pulau di seberang daratan Cilacap.  Jaksa Agung HM Prasetyo sebelumnya telah mengisayaratkan eksekusi mati akan dilaksanakan akhir pekan ini.

Regu tembak

Tanda kuat lainnya adalah kedatangan regu tembak dari Brimob Polda Jateng.

Mereka yang jumlahnya ratusan datang bergelombang sejak Kamis sore, menumpang delapan bus besar. Beberapa di antaranya menggunakan PO Sinar Jaya.

Prajurit Brimob itu tidak diturunkan di Dermaga Wijayapura, melainkan masuk Nusakambangan melalui Dermaga Khusus PT Holcim Indonesia. Kendaraan diseberangkan kapal feri Prima Jaya milik PT Holcim Indonesia. 

Saat ditanya wartawan, salah seorang petugas keamanan di Dermaga Holcim mengatakan, delapan bus tersebut mengangkut regu tembak.

"Ya, regu tembak," katanya singkat.

Petunjuk lainnya adalah ketatnya penjagaan di sekitar Dermaga Wijayapura dan kehadiran 14 mobil Patwal Unit Patroli Jalan Raya Dirlantas Polda Jateng.

Kendaraan itu akan mengawal mobil ambulans pembawa jenazah ke lokasi pemakaman masing-masing. 

Mobil pengawal diparkir di halaman Stasiun Pandu yang bersebelahan dengan Dermaga Wijayapura sejak Kamis pagi. .(Tribunnews/dnh/mim/hdr/ang/kps/ant)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved