Breaking News:

Dalang Pembunuhan Satu Keluarga di Kampial Ini Beri Ceramah Penghuni Lapas

Meskipun berada dalam satu Lapas, Heru dan Anita jarang bertemu, kecuali pada saat kegiatan atau peringatan hari raya.

Penulis: Putu Candra | Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Tribun Bali/Rizal Fanany
Pasangan suami istri,Heru Ardianto dan Putu Anita Sukradewi terpidana mati dalam kasus pembunuhan di nusa dua dikawal sejumlah petugas kepolisian saat mengajukan upaya hukum peninjauan kembali di Pengadilan Negeri Denpasar, Jumat (29/7/2016) 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Sudah empat tahun lamanya Heru dan Anita  tinggal di balik jeruji Lapas Karangasem, Bali.

Heru Hendriyanto (30) dan Putu Anita Sukra Dewi (25) adalah terpidana mati atas pembunuhan satu keluarga di Kampial, Kabupaten Badung,  pada tahun 2012.

(Pasutri Dalang Pembunuhan Keluarga I Made Purnabawa Minta Keringanan Hukuman)

Untuk membunuh kejenuhan, Heru menghabiskan waktunya melakukan kegiatan bersih-bersih dan menjadi pengurus di masjid Lapas.

"Kebanyakan waktu saya habiskan untuk mengurus masjid lapas, bersih-bersih dan memberikan ceramah kepada penghuni lapas lainnya di masjid," ujar Heru di PN Denpasar, Jumat (29/7/2016), sebelum mengajukan PK.

Heru juga menjadi remaja masjid dan pimpinan di masjid Lapas.

“Saya bertobat dan ingin mengajak semua orang di  Lapas menjadi orang baik. Mendekatkan diri kepada Tuhan karena pada akhirnya kita berpulang kepadaNYA," imbuhnya.

Anita juga melakukan kegiatan bersih-bersih di seputar Lapas.

Waktu senggang dihabiskannya dengan menulis keluh kesah hidup di penjara dalam buku harian.

Juga menulis tentang kerinduannya kepada anak lelaki semata wayang yang ditinggalkan saat berumur 1,5 tahun.

Anak yang kini berumur 6 tahun itu dirawat  oleh Yayasan Perlindungan Anak.  

"Saya bertemu sekali saja awal tahun 2015 saat dia berumur 4 tahun,” ujar Heru.

Untuk memenuhi kehidupan sehari-hari di dalam Lapas, Heru bekerja menjadi pembantu di kantin Lapas.

Sedangkan Anita  mengumpul sisa nasi, dikeringkan lalu dijual.

Sehari membantu berjualan nasi, Heru dibayar Rp 15 ribu.

"Uang itu kami kumpul untuk kebutuhan sehari-hari," tutur Heru.

Meskipun berada dalam satu Lapas, Heru dan Anita jarang bertemu, kecuali pada saat kegiatan atau peringatan hari raya.

Heru  menghuni blok B II, sedangkan Anita di blok W khusus tahanan dan narapidana wanita.

Ditanya jarang bertemu apakah tidak merasa kangen?

"Biasa, namanya suami istri pasti ada rasa kangen ingin bertemu. Kami bertemu lewat batin," ucap Heru sambil tersenyum.

Selama menghuni lapas, Heru mengaku tidak pernah dijenguk sanak keluarganya.

Sedangkan Anita mendapat kunjungan dari orangtuanya setahun sekali ketika hari raya.

Untuk diketahui, Heru dan Anita, berperan sebagai dalang pembunuhan Purnabawa dan keluarganya yang tinggal di perumahan Kampial, Badung.

Heru mengajak dua terdakwa lainnya untuk membunuh korban pada 16 Februari 2012.

Saat itu, satu keluarga yang terdiri dari I Made Purnabawa (28), istrinya Ni Luh Ayu Sri Mahayoni (27), dan anak perempuannya Ni Wayan Risna Ayu Dewi (9) sempat dinyatakan hilang misterius.

Namun, akhirnya terungkap kalau keluarga tersebut dibunuh dan mayatnya dibuang di hutan di Jembrana, sekitar 150 kilometer dari rumah mereka, 20 Februari 2012.

Selanjutnya, Mahkamah Agung (MA) memvonis mati pasangan ini.

Putusan MA ini diketok oleh Mayjen (Purn) Imron Anwari sebagai ketua majelis, dengan anggota Prof. Dr. Gayus Lumbuun dan Dr. Salman Luthan sebagai anggota.

Vonis perkara nomor 675 K/PID/2013 ini diketok pada 11 Juli 2013 lalu, menguatkan putusan Pengadilan Negeri Denpasar pada 6 November 2012 dan putusan Pengadilan Tinggi Denpasar pada 7 Januari 2013, yang juga menghukum mati Heru dan Anita.  

Selain itu, dua rekan Heru, yaitu Abdul Kodir dan Syafaat juga divonis mati karena terbukti ikut serta melakukan pembunuhan berencana terhadap keluarga Made Purnabawa. (*)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved