Anggaran Rp 7 Miliar untuk Eksekusi Mati Dipertanyakan

Julius menjelaskan anggaran untuk eksekusi mati diberikan kepada dua institusi yakni, Kejaksaan Agung dan Kepolisian RI (Polri).

Anggaran Rp 7 Miliar untuk Eksekusi Mati Dipertanyakan
Tribun Palembang
Ilustrasi 

TRIBUN-BALI.COM - Berdasarkan investigasi yang dilakukan YLBHI dan Kontras, Julius menyebut dana yang telah cair dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) mencapai Rp 7 miliar untuk eksekusi mati.

Pelaksanaan hukuman mati dari sisi anggaran itu juga patut dipertanyakan.

(Eksekusi Mati Jilid III Terhadap 4 Orang Terpidana Mati Ilegal?)

Dana tersebut merupakan anggaran untuk melakukan eksekusi 18 orang terpidana mati.

Namun, kata Julius, anggaran tersebut telah habis terpakai meski hanya empat orang yang dieksekusi mati di tahap III.

"Rencana awal dimintakan terhadap 18 orang. Ini yang kami duga cair jumlahnya mencapai Rp 7 miliar dan anggaran itu sudah habis," ujar Julius. Anggaran itu menurutnya juga bertentangan dengan kebijakan pemerintah soal penghematan anggaran.

Julius menjelaskan anggaran untuk eksekusi mati diberikan kepada dua institusi yakni, Kejaksaan Agung dan Kepolisian RI (Polri).

Untuk mengeksekusi seorang terpidana mati, Kejaksaan Agung mendapat Rp 200 juta, sedangkan kepolisian mendapat Rp 247.112.000.

"Artinya dibutuhkan anggaran sebesar Rp 447.112.000 untuk melakukan eksekusi terhadap 1 terpidana mati," kata Julius.

Menurut Julius, adanya dua anggaran yang diberikan untuk satu kegiatan jelas memiliki indikasi adanya penyalahgunaan atau penyelewengan anggaran negara.

Selain itu dia menduga anggaran eksekusi mati juga diduga menjadi 'bancakan' kejaksaan dan kepolisian.

Pasalnya, kata Julius, Kejaksaan Agung telah meminta anggaran eksekusi mati sebanyak 30 orang untuk tahun 2016‑2017.

"Kami sulit untuk mengakses informasi ini. Menurut Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) ini bukan merupakan informasi publik, makamya kami lakukan investigasi. Hasilnya belakangan diketahui anggaran yang sudah cair mencapai Rp 7 miliar. Ini seperti uang kaget atau uang tambahan," kata Julius. (rek/kps/wly)

Editor: Ida Ayu Made Sadnyari
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved