Breaking News:

Mengejutkan, Pengakuan Anak Korban Pelecehan Seksual: Mama Papa Kok Boleh?

Anggreni juga mengungkap bahwa dari banyak kasus tersebut, kebanyakan pelakunya adalah orang terdekat korban, seperti orangtua, paman, hingga kakek

Tirbunnews
Ilustrasi korban pelecehan seksual 

TRIBUN-BALI.Com, DENPASAR - Laporan kasus kekerasan seksual terhadap anak di Denpasar, Bali dalam dua tahun terakhir ini meningkat.

Aktivis perlindungan perempuan dan anak Luh Putu Sri Anggreni mendorong agar orangtua makin berani melapor jika anaknya jadi korban kekerasan.

Data dari Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2TP2A) dan Polresta Denpasar ada peningkatan kasus kekerasan terhadap anak dari 2014 sampai 2015.

Januari hingga Juni 2016 saja, tercatat kasus kekerasan terhadap anak usia 17 tahun ke bawah mencapai 38 kasus.            

Kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan tahun 2012 ada 193 kasus. Tahun 2013 ada 160 kasus.

Tahun 2014, P2TP2A mencatat jumlah kekerasan terhadap anak dan perempuan sebanyak 159 kasus.

Pasca kasus Engeline yang sempat mencuat hingga ke nasional, P2TP2A mencatat ada peningkatan besar kasus kekerasan terhadap anak dan perempuan di Denpasar yang jumlahnya mencapai 274 kasus di tahun 2015.

Itu berarti masyarakat semakin berani melapor jika ada anak atau kerabatnya jadi korban. 

"Kalau di 2015 memang terhadi peningkatan, itu setelah kasus Engeline, semua pihak jadi semakin gencar dan masyarakat semakin berani melaporkan baik ke kami atau ke kepolisian," kata Ketua Harian P2TP2A Denpasar, Luh Putu Sri Anggreni, Kamis (4/8).

Di tahun 2016, tepatnya dari bulan Januari sampai Juni, P2TP2A Denpasar mencatat kasus kekerasan terhadap anak di Denpasar 38 kasus.

Halaman
123
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved