Tantangan Bali ke Depan, Ini Kata Pakar Marketing Hermawan Kartajaya

Pakar pemasaran kelas dunia itu mengakui bahwa upaya membangun jiwa entrepreneurship di kalangan birokrat atau ASN bukanlah hal yang mudah.

Humas Pemprov Bali
Pakar marketing, Hermawan Kartajaya berbicara di depan Gubernur Bali Made Mangku Pastika dan jajaran Pemprov Bali dalam rangka HUT ke-58 Pemprov Bali, di Taman Budaya, Jalan Nusa Indah, Denpasar, Bali, Sabtu (6/8/2016). 

Jika teori tersebut dapat diaktualisasikan, dia optimistis jiwa kewirausahaan akan tumbuh di jajaran birokrat.

Dalam kesempatan itu, Hermawan mengingatkan pula bahwa entrepreneurship tak selalu identik dengan pemasaran, namun lebih ke strategi menjadikan yang tidak ada menjadi ada.

Secara umum, Hermawan Kartajaya banyak menyinggung strategi marketing yang dibutuhkan Bali dalam menghadapi persaingan yang makin ketat di bidang kepariwisataan.

Kata dia, hal pertama yang mesti diperhatikan adalah jeli melihat perkembangan tanda-tanda zaman.

Dia pun lantas mencontohkan kekuatan marketing melalui film.

"Ada film AADC 2 yang booming dan membawa efek positif pada Kota Yogyakarta yang dijadikan lokasi syuting. Popularitas BJ Habibie juga meningkat karena film," ujarnya.

Fakta itu membuktikan bahwa film merupakan sebuah media yang sangat efektif dalam dunia marketing.

Bahkan, ujar Hermawan, ada negara yang berani membayar agar dapat dijadikan lokasi pengambilan gambar sebuah film.

"Bali meski bersyukur karena tanpa membayar, sudah menjadi lokasi syuting film Hollywood Eat Pray and Love. Itu luar biasa," ujarnya.

Selain jeli melihat tanda-tanda zaman, Hermawan juga menguraikan bahwa masa depan dunia marketing ada pada tiga kelompok yaitu youth, women dan netizen.

Halaman
123
Editor: Kander Turnip
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved