Badung Unggul Maju Sejahtera
Badung Unggul Maju Sejahtera

Full Day School, Ferdiansyah: Jangan Sampai Anak Letih

Ketua Komisi X DPR, Ferdiansyah meminta Kemendikbud melakukan kajian mendalam sebelum memperpanjang jam sekolah hingga sehari penuh.

Tayang:
Editor: Irma Yudistirani
bangkapos.com/Yudistira Gatra Praja
Ilustrasi sekolah 

TRIBUN-BALI.COM, JAKARTA - Ketua Komisi X DPR, Ferdiansyah meminta Kemendikbud melakukan kajian mendalam sebelum memperpanjang jam sekolah hingga sehari penuh.

"Kalau tidak dikaji secara mendalam bisa muncul ekses," kata Ferdiansyah, Senin (8/8/2016).

Menurut Ferdi, ada sejumlah hal yang perlu dikaji sebelum penerapan wacana tersebut.

Pertama, Kemendikbud harus mengkaji apa saja aktivitas yang akan dilakukan oleh para siswa jika sekolah hingga pukul 17.00.

Ia menekankan, sekolah tak boleh hanya melakukan kegiatan belajar mengajar seperti biasa karena akan mengganggu psikologis anak.

"Itu kan sampai jam 17.00, gimana sampai anak jangan cepat letih, psikologisnya terganggu," kata dia.

Selain itu, Mendikbud juga harus memikirkan kegiatan anak-anak yang biasanya dilakukan sepulang sekolah.

Ferdi mengatakan, ada anak-anak yang membantu orangtuanya sepulang sekolah.

"Mendikbud harus berkomunikasi dengan orangtua murid terkait hal ini," ujar dia.

Anggota Komisi X DPR Dadang Rusdiana juga menilai, wacana kebijakan full day school harus dikaji lebih dahulu.

Pasalnya, kebijakan tersebut akan mengubah kebiasaan yang selama ini dilakukan dalam dunia pendidikan.

"Artinya siapkah anak-anak kita dengan perubahan seperti ini, karena tentunya fasilitas yang disiapkan sekolah untuk sekolah sepenuh hari harus dilakukan pula," kata Dadang.

Ia mencontohkan sarana dan prasarana tempat istirahat di sekolah harus memadai untuk anak-anak.

Kemudian fasilitas kantin yang aman bagi kesehatan serta uang saku harian yang cukup.

"Siapa ini yang menjamin semua ini. Sudah siapkah pemerintah, sementara ruang belajar saja masih banyak yang rusak. Ini masalah," ujar politikus Hanura itu.

Untuk itu, Dadang meminta kebijakan tersebut tidak terburu-buru dilaksanakan sebelum fasilitas pendukung disiapkan.

Selain itu, Dadang menilai diperlukannya inventarisir sekolah yang selama ini menerapkan dua shift sekolah pagi-siang karena keterbatasan kelas.

"Masa shift kedua harus belajar sampai tengah malam, kan nggak mungkin," katanya. (*)

Sumber: Tribun Bali
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved