Bali Mandara Mahalango
Dalang Bocah Tampilkan Kisah Rare Angon
Pementasan wayang ini menceritakan kisah bocah yang pandai melukis, bernama Rare Angon.
Penulis: Cisilia Agustina. S | Editor: Kander Turnip
TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Empat bocah asyik melakoni tugas sebagai dalang dalam pementasan wayang kulit.
Bertajuk Wayang Rare Angon, pementasan wayang anak ini menjadi kali pertama ditampilkan oleh Sanggar Rare Angon, Gianyar dalam perhelatan Bali Mandara Mahalango, di Madya Mandala, Taman Budaya, Denpasar, Bali, Jumat (12/8/2016) malam.
Wayan Wija, Dalang dari sanggar Rare Angon, mengatakan, pemain pementasan malam itu adalah langsung dari anak-anak.
Tujuannya untuk memberikan wadah bagi anak-anak untuk berbuat tidak hanya menjadi objek.
"Ini yang pertama kali. Tujuannya untuk memberikan wadah bagi anak-anak ini berkesenian. Tidak sekadar menjadi objek saja," ujar Wija.
Pementasan wayang ini menceritakan kisah bocah yang pandai melukis, bernama Rare Angon.
Saking pandainya, bocah yang juga merupakan anak petani ini, melukis sosok perempuan cantik yang kemudian ia beri nama Ni Lubangkori.
Suatu hari raja berkunjung ke desa Rare Angon dan melihat lukisan Ni Lubangkori, yang kemudian jatuh cinta dengan sosok perempuan di lukisan tersebut.
Raja meminta Rare Angon untuk mencari perempuan yang ada dalam lukisannya tersebut.
"Raja minta Rare Angon untuk mencari perempuan di lukisannya tersebut dengan taruhan nyawa kalau tidak bisa membawa perempuan itu. Rare Angon bingung, karena memang tidak ada sosok perempuan itu. Sampai suatu malam ia bermimpi, bertemu kakek yang memberi petunjuk," ujarnya.
Hingga kemudian, ia melakukan perjalanan dan mencari sosok Ni Lubangkori seperti petunjuk yang ia dapatkan.
Dan kemudian bertemu dengan sosok Pekak Dukuh yang memiliki cucu bernama Ni Luh Sari.
Atas petunjuk Pekak Dukuh ia mencari Ni Luh Sari yang kemudian mau menjadi sosok Ni Lubangkori.
Wija mengatakan, wacana terkait wayang anak ini sudah sejak lama, bahkan sejak 4 tahun yang lalu.
Namun baru terealisasi dan ditampilkan malam itu.
Tujuannya, untuk memberikan ruang bagi anak-anak berekspresi dan berinteraksi dengan sesamanya.
"Biar mereka bisa berekspresi dan saling berinteraksi dengan teman-temannya. Ini juga untuk melihat sejauh mana kemampuan mereka," kata Wija. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bali/foto/bank/originals/sanggar-rare-angon-gelar-wayang-bocah-di-bali-mandara-mahalango_20160813_225528.jpg)