Gadis 17 Tahun Korban Pencabulan Menangis Sesegukan di Kejati Bali karena Ini

Keduanya datang memenuhi panggilan jaksa untuk memberikan keterangan tambahan terkait kelengkapan berkas yang masih tahap P-19

Gadis 17 Tahun Korban Pencabulan Menangis Sesegukan di Kejati Bali karena Ini
NET
Ilustrasi 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Pengacara sekaligus pegiat dari Pusat Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kota Denpasar, Siti Sapurah mendatangi Kejaksaan Tinggi (Kejati) Bali, Jumat (9/9/2016) pukul 09.00 Wita.

Kedatangan perempuan yang akrab disapa Ipung ini tak sendiri, ia datang bersama KB (17) gadis yang diduga menjadi korban pencabulan oknum polisi berinisial IKA, saat korban berusia 12 tahun sampai berumur 16 tahun.

Keduanya datang memenuhi panggilan jaksa untuk memberikan keterangan tambahan terkait kelengkapan berkas yang masih tahap P-19.

Dalam pemeriksaan yang berlangsung selama dua jam, jaksa kembali menanyakan seputar peristiwa yang dialami korban saat berumur 12 tahun.

Pun dalam pemeriksaan tersebut, jaksa meminta korban memperagakan sejumlah adegan saat pelaku melakukan pencabulan.

"Ada beberapa adegan yang diminta jaksa untuk di peragakan, dengan tangis sesegukan korban menceritakan kembali peristiwa itu. Cukup lama pemeriksaannya, beberapa kali berhenti karena kondisi korban yang masih shock," tutur Ipung.

"Jaksa meminta kami kuasa hukum mengajak korban untuk memperkuat BAP yang sebelumnya sudah di buat oleh penyidik polisi. Berkas masih P19 dan petunjuk jaksa meminta agar unsur-unsur dari pasal 81 juncto pasal 82 UU No. 35 Tahun 2014 terpenuhi," jelasnya.

Ipung menerangkan, dalam petunjuk jaksa di P19, mereka meminta membuat surat pengaduan dari orang tua korban untuk memasang pasal 287 KUHP, karena berkas yang dikirim penyidik tidak memenuhi unsur pasal 81 juncto pasal 82 Undang Undang Perlindungan Anak.

Terkait dengan hal tersebut, sebagai kuasa hukum dirinya tidak bersedia mencantumkan pasal 287 KUHP dengan alasan bahwa korban masih dibawah umur dan saat pertama kali peristiwa korban berumur 12 tahun.

"Karena alasan itu, jaksa meminta kami membawa korban untuk dimintai keterangan agar unsur-unsur pasal 81 juncto pasal 82 UUPA terbukti. kalau pasal 287 KUHP sangat ringan, karena ancaman yang sangat ringan inilah kami tidak sependapat dgn petunjuk tersebut," terang Ipung.

Jika memenuhi unsur pasal 81 jo pasal 82 UUPA maka ancaman hukuman bagi pelaku minimal 5 tahun dan maksimal 15 tahun dan PERPPU No I Tahun 2016 tentang Perlindungan anak ancaman minimal 10 tahun dan maksimal 20 tahun.

Ditanya apakah akan ada pemanggilan lagi, pihaknya belum mengetahui.

Namun dari penyidik kepolisian telah memintanya untuk datang dan mengajak korban untuk ke Polda hari Selasa (13/9/2016).

"Tapi kami belum bisa pasti kan apakah hari Selasa bisa," ujarnya sambil berharap dengan adanya keterangan tambahan ini, berkas P21 segera rampung dan dilimpahkan.

 "Semoga dengan keterangan tambahan ini berkas secepat nya P21 dan segera dilimpahkan," pungkas Ipung. (*)

Penulis: Putu Candra
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved