Pedagang Asongan Jualan di Jaba Pura Kahyangan, Pemedek: Bagaimana Kita Kushyuk Sembahyang!

Ratusan pemedek melakukan upacara melasti yang biasa dilaksanakan di Pantai Watu Klotok

Pedagang Asongan Jualan di Jaba Pura Kahyangan, Pemedek: Bagaimana Kita Kushyuk Sembahyang!
Tribun Bali/Eka Mita Suputra
Pedagang tampak menjamur di areal jaba sisi Pura Watu Klotok, Jumat (23/9/2016). 

TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA - Pura Watu Klotok di Desa Pakraman Gelgel, Tojan,  Klungkung tampak dipadati ratusan pemedek yang datang dari berbagai daerah di Bali, Jumat (23/9/2016).

Ratusan pemedek tersebut hendak melakukan upacara melasti yang biasa dilaksanakan di Pantai Watu Klotok.

Namun, beberapa pemedek yang tangkil di Pura Watu Klotok ketika itu mengeluhkan sejumlah pedagang asongan dan kaki lima yang berjualan hingga di jaba sisi pura salah satu pura kahyangan jangat di Bali ini.

“Anak nangis terus minta belanja, karena banyak dagang mainan yang berjualan hingga di jaba sisi Pura. Kalau seperti ini bagaimana kita bisa kushyuk sembahyang,” tegas I Wayan Merta, pemedek asal Desa Nongan, Karangasem, Jumat (23/9/2016).

“Selain itu, karena banyaknya pedagang sampai berjualan ke jaba sisi Pura, pura yang kita sakralkan ini tampak agak kumuh,” tambah Merta.

Saat itu memang tampak belasan pedagang acung berjualan hingga jaba sisi Pura Watu Klotok, mulai dari pedagang makanan minuman, ikan hias, hingga pedagang aksesoris pun berjualan di pura yang sangat disakralkan tersebut.

lapak-lapak pedagang tersebut berada di sekitar wantilan, yang ketika itu juga dijadikan lokasi muspa oleh pemedek.

Bahkan ada banyak pedagang yang ketika berjualan di areal pura tidak menggenakan pakaian adat dan hanya menggenakan celana.

“Bukan maksud melarang orang untuk mengais rejeki. Tapi alangkah bagusnya jika para pedagang itu lebih ditertibkan. Biarkan mereka jualan di sekitar areal parkir. Dengan seperti  itu kan, jadi terlihat lebih tertib dan rapi,” jelas pemedek lainnya, Wayan Wirta.

I Wayan Sumer, salah seorang pedagang makanan dan minuman di jaba sisi Pura Watu Klotok mengaku sengaja jauh-jauh dari Desa Bangbang, Bangli untuk berjualan di area Pantai Watu Klotok .

Sekali berjualan di Pura Watu Klotok, Sumer mengaku dapat meraup untung hingga Rp 200 ribu.

Sebelum berjualan ia biasanya mengaturkan dana punia sebesar Rp 10 ribu.

“Pedagang disini kebanyakan dari luar Klungkung, bahkan ada yang dari luar Bali. Untuk tetap menjaga ketertiban dan kenyamanan pemedek, saya selalu berjualan dengan pakaian adat dan hanya menjajakan dagangan saat pemedek usai melakukan persembahyangan,” ujar Wayan Sumer.

Bendesa Desa Pakraman Gelgel, I Putu Arimbawa ketika dikonfirmasi melalui telepon ,mengaku tidak bisa serta merta melakukan tindakan penertiban terhadap pedagang tersebut.

Pihaknya berencana akan berkoordinasi dengan kelian di Pura Watu Klotok terkait hal tersebut.

“Hal itu masukan bagus, saya akan bicarakan lebih lanjut terkait hal ini dengan pihak pura,” jelas Putu Arimbawa.

Penulis: Eka Mita Suputra
Editor: Aloisius H Manggol
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved