60 Persen Narkoba Di Pulau Dewata Berasal Dari Lapas Kerobokan, Bali Rawan Narkoba

“Heran, kenapa Lapas Kerobokan yang cuma punya satu pintu masuk bisa kebobolan HP, sajam dan benda terlarang lainnya. Ini bagaimana ceritanya?”

60 Persen Narkoba Di Pulau Dewata Berasal Dari Lapas Kerobokan, Bali Rawan Narkoba
Tribun Bali/Putu Candra
Beberapa awak media nampak menunggu petugas gabungan di depan Lembaga Pemasyarakatan Klas II A Denpasar di Kerobokan Badung, Rabu (2/3/2016) malam. 

TRIBUN-BALI.COM , DENPASAR - Bali menjadi lokasi pertama kunjungan panitia kerja (Panja) Pengawasan Peredaran Sindikat Narkoba bentukan Komisi III DPR RI yang dipimpin Bambang Soesatyo.

Bali menjadi tujuan pertama dikarenakan tingginya peredaran narkoba disertai masih kerapnya aparat penegak hukum bermain dalam setiap kasus narkoba di Pulau Dewata.

“Bergerak dari pengakuan dari Freddy Budiman yang menggambarkan bagaimana aparat bermain mata mulai dari lapas, imigrasi, TNI dan Polri. Kemudian dipicu dengan kejadian Dir Narkoba yang melakukan praktek 86 dengan pengedar narkoba di Bali ini. Makanya kunjungan pertama Panja ini adalah ke Bali. Kita ingin memastikan tidak ada lagi hal-hal seperti itu di Bali, karena salah satu yang paling rawan adalah memang Bali karena ini adalah serambi masuk pariwisata di Indonesia,” papar Bambang Soesatyo di Mapolda Bali.

Pada pertemuan itu, Bambang Soesatyo didampingi anggota Panja seperti Aboe Bakar Al Habsy, Abdul Kadir Karding, Ikhsan Soelistyo, dan Benny K Harman.

Mereka menyiapkan sejumlah pertanyaan kepada tiap aparat penegak hukum di Bali.

Adapun yang menjadi sorotan Panja adalah peredaran narkoba yang semakin masif di Bali.

Panja Pengawasan Peredaran Sindikat Narkoba memaparkan data dari BNN bahwa terdapat 4 juta lebih pengguna narkotika di Indonesia.

Di Bali sendiri, hampir 60% lebih peredaran narkoba berasal dari Lapas Kerobokan.

“Heran, kenapa Lapas Kerobokan yang cuma punya satu pintu masuk bisa kebobolan HP, sajam dan benda terlarang lainnya. Ini bagaimana ceritanya?” tanya Bambang di hadapan aparat penegak hukum seperti kepolisian, kejaksaan, Badan Narkotika Nasional Provinsi (BNNP) Bali, dan Kantor Wilayah Hukum dan Ham (Kanwilkumham).

Pertemuan yang berlangsung selama kurang lebih 2,5 jam itu secara garis besar diisi dengan diskusi dan pemaparan dari masing-masing aparat penegak hukum di Bali terkait kendala mereka dalam memberantas kasus-kasus narkotika.

Halaman
123
Penulis: I Gusti Agung Bagus Angga Putra
Editor: Eviera Paramita Sandi
Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved